Friday, November 1, 2019

Johnny English Reborn

Review: Johnny English Reborn


Image result for review film johnny english reborn
Tak akan ada asap bila tak ada api, jika tidak karena film pertama untung, sekuel pun mungkin tidak akan terjadi. Dengan bujet $40 juta , “Johnny English” sanggup mengeruk keuntungan berlipat-lipat hingga mengumpulkan pundi-pundi dolar, $160 juta. Nama Rowan Atkinson terbukti memang sukses menjual film ini, semua orang tampaknya cinta dengan Mr.Bean. Perannya sebagai Mr.Bean begitu melekat pada diri seorang Rowan Atkinson, tidaklah heran, walaupun “dipaksa” untuk merubah image sebagai super-spy dalam film “Johnny English” dan sekuelnya yang kali ini diberi embel-embel tambahan “Reborn”, topengnya sebagai Mr.Bean seperti sulit dilepaskan, kita selalu akan melihat Atkinson sebagai pria “lugu” yang mempunyai mobil mini cooper tersebut. Untuk urusan membuat penonton tertawa, Atkinson adalah orangnya, dia jagonya, aktor serba bisa, disuruh berlakon serius pun Atkinson mampu membawakannya dengan baik. Dalam “Johnny English Reborn” kita bisa melihat dua sisi seorang Mr.Bean, eh maksud saya Atkinson, di film ini dia tak hanya “wajib” lucu tapi juga di beberapa bagian tampil serius, tapi ujung-ujungnya hanya direspon oleh gelak tawa penonton.
Johnny English sedang galau karena misi sebelumnya yang berubah menjadi bencana, dia pun mengasingkan diri ke Tibet untuk mempelajari beladiri sekaligus menenangkan batinnya (serius sekali). Sedangkan di belahan dunia lain penjahat-penjahat internasional yang terdiri dari pembunuh profesional sedang melancarkan aksinya untuk membunuh perdana menteri China dan menyulut kekacauan global. Johnny English pun dipanggil kembali oleh MI7 untuk sebuah misi baru menghentikan gerombolan penjahat yang akan mengganggu kedamaian dunia. Pamela “Pegasus” Thornton (Gillian Anderson), bos di MI7 pun mentandemkan English dengan seorang agen junior, Tucker (Daniel Kaluuya), mereka langsung bergerak cepat menuju Hongkong untuk menemui seorang informan. Belum apa-apa English sudah memperlihatkan keahliannya sebagai agen yang culun, karena salah mengenali informan yang dia cari, tapi didepan Tucker walaupun berbuat salah, English tetap ingin terlihat benar. Tentu saja saya sebagai penonton tidak ingin si agen rahasia Johnny English ini  untuk menjadi film yang serius, dan film ini melakukan apa yang memang diinginkan penontonnya.
Review Johnny English Reborn
Tidak perlu memikirkan terlalu serius jika “Johnny English Reborn” punya cerita yang sepertinya hasil comot sana dan comot sini, usang, dan sudah pernah dipertontonkan berkali-kali oleh film-film bertema agen rahasia sebelumnya. Disutradarai oleh Oliver Parker, film ini toh memang tidak akan membiarkan penontonnya untuk serius sejak awal kita duduk di dalam bioskop. Nikmati saja setiap misi demi misi konyol yang diemban English untuk mengocok perut kita, serius itu yang saya lakukan, tidak peduli jika pada akhirnya cerita akan mudah ditebak, corny, ataupun segala macam hujatan yang membuat kritikus tampak cool karena mengejek-ngejek film ini. Well yang diperlukan hanya duduk manis, maka Johnny English pun akan melakukan yang terbaik untuk melepaskan stress dan membuat rahang kita sakit karena terlalu banyak tertawa, bahkan ada satu momen dimana Atkinson sukses membuat saya jumpalitan tertawa hingga mengeluarkan air mata (serius). Saya tidak akan mengatakan bagian paling lucu tersebut, tapi saya bisa katakan ini, sekuel ini lebih lucu dari film pertama dan tidak berlebihan.
Walaupun sudah dalam balutan “kostum” agen rahasia, Atkinson memang tidak terlepas dari bayang-bayang Mr.Bean, sesekali kita akan melihat sosok Bean dalam diri seorang Johnny English, gerakan-gerakan konyol ala Bean akan hadir disini, tidak banyak tapi cukup untuk membuat saya bilang “Mr.Bean banget…” (sambil tertawa). Agar semakin terlihat membodohi diri sendiri, English punya rekan yang lebih pintar, agen Tucker –lah yang nantinya bertanggung jawab menjadi penopang segala kelucuan dan kebodohan English, yang merasa sok pintar dan sok senior. Daniel Kaluuya ini jika dipikir-pikir lagi sekilas akan tampak seperti versi “halus” dari aktor Chris Tucker, yang kita kenal sebagai James Carter di seri “Rush Hour” bersama Jackie Chan. Sebenarnya “Johnny English Reborn” punya banyak karakter lain, termasuk Pegasus, pimpinan MI7, yang dilakonkan oleh Gillian Anderson (agen Scully di serial X-Files). Namun karakter-karakter tersebut ditempatkan hanya untuk “hilir mudik”, karena fokus film ini tentu ingin menonjolkan karakter English dan sebanyak-banyaknya memberikan porsi pada Atkinson untuk lebih “badut” dari badut. Jadi apakah ada karakter lain yang menyita perhatian dalam film ini? Yup ada, “The Killer Cleaner” (Pik-Sen Lim), seorang nenek yang berstatus pembunuh bayaran, lupakan Cataleya dan Evelyn Salt, mereka tidak ada apa-apanya.
“Johnny English Reborn” punya keseruan ala film-film James Bond, dalam soal aksi-aksi agen rahasia-nya, walaupun tidak terlalu serius dan tidak banyak mengumbar visual efek. Satu-satunya efek yang terasa dahsyat disini hanyalah efek menggelitik yang datangnya dari lawakan-lawakan Atkinson. Beberapa komedi memang tampak usang tapi Atkinson mampu memolesnya untuk tetap lucu, alhasil saya terhibur dari awal hingga akhir film. Didukung dengan para pemain yang cukup mendukung dan cerita yang ringan, Johnny English Reborn pun bergulir dengan asyik, nyaman untuk diikuti, dan sama sekali tidak membosankan. Kita tahu ini film komedi, tapi Oliver Parker tahu kapan harus melawak dan menempatkan serangkaian kebodohan Johnny English, agar nantinya tidak terkesan berlebihan bagi penonton. Ketika waktunya untuk serius, Oliver pun tetap mampu untuk menjaga mood penontonnya, terlalu lama serius pun tidak baik, setidaknya momen serius ini dipakai oleh saya untuk mengistirahatkan rahang yang sudah capek tertawa. Melihat kelucuan Rowan Atkinson saya jadi rindu dengan film-film Mr.Bean, biasanya saya geli jika
mendengar kata sekuel kedua, tapi pengecualian untuk seri Johnny English, bolehlah kalau mau diteruskan ke film ketiga, kita butuh film aksi bodoh seperti ini.

BrideZilla

Review Film: Bridezilla, Komedi Untuk Para Calon Pengantin

Visinema Pictures kembali hadir dengan film drama komedi berjudul Bridezilla. Disutradarai oleh Andibachtiar Yusuf, film ini dibintangi oleh Jessica Mila, Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Rafael Tan, Widyawati, dan Lucinta Luna. Simak review film Bridezilla dari BookMyShow. 
Dara (Jessica Mila) sudah memiliki impian akan pesta pernikahannya sejak kecil. Sekarang ia menjalankan bisnis WO (wedding organizer) bersama kedua sahabatnya Key (Sheila Dara Aisha) dan Aang (Rafael Tan). 
Suatu hari Dara sedang menangani sebuah wedding dari selebriti yang terkenal karena sensasinya, Lucinta Luna. Lucinta pun mengeluh dan mengomeli Dara karena ingin pernikahannya menjadi Wedding of the year. Saat acara dimulai terjadi sebuah kesalahan fatal yang membuat Lucinta malu dan menggagalkan pernikahan.
Sejak saat itu reputasi wedding organizer Dara menurun dan hampir bangkrut karena keluhan seorang Lucinta Luna yang kecewa. Dara, Key, dan Aang harus memutar otak bagaimana mengembalikan reputasi WO mereka dan para vendor yang tiba-tiba memutuskan kerja sama. 
Stress akan urusan wedding organizer, Dara pun diajak liburan oleh pacaranya, Alvin (Rio Dewanto). Alvin pun memberikan kejutan kepada Dara yaitu dengan melamarnya sebagai istri. Mereka pun menyiapkan pernikahan setelah pulang liburan.
Saat menyiapkan segalanya, Dara memiliki ide bagaimana jika pernikahannya dengan Alvin diliput majalah Wedding Star dan mengundang sosialita ibu kota agar menjadi Wedding of the year, sehingga reputasi wedding organizer kembali bersinar. 
Namun semua itu tidak mudah, Dara harus mengikuti semua aturan dari Tante Ana (Widyawati), pemilik majalah Wedding Star yang super perfeksionis. Dara pun semakin terobsesi dan rela melakukan apa saja demi predikat wedding of the year. Apakah dirinya menjadi sudah menjadi seorang Bridezilla seperti client-client-nya? 

Review Film Bridezilla, Komedi Untuk Para Calon Pengantin

Bridezilla menampilkan kisah seorang wanita yang mewujudkan pernikahan impian menjadi nyata.  Kamu juga bisa melihat ribetnya mengurus wedding organizer dan menangani client yang super bawel.
Beberapa adegan dalam film Bridezilla berhasil mengundang tawa. Terutama saat kehadiran Lucinta Luna, sosoknya yang suka mencari sensasi, bawel dan teriakannya yang khas. Semua itu sukses bikin penonton tertawa. 
Ide cerita Bridezilla sebenarnya menarik tapi entah mengapa, beberapa skrip yang diucapkan para aktor terasa awkward dan membuat penonton hening. Apa karena campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Apakah sebuah tim wedding organizer seperti itu bicaranya? 
Kemudian chemistry Jessica Mila dan Rio Dewanto terasa biasa saja, apa kah karena jarak usia? Rio Dewanto tampil sangat dewasa dalam film ini. Penampilan yang mencuri perhatian justru Sheila Dara Aisha sebagai Key, dan Aimee Saras sebagai Kirana, ketua geng sosialita. 
Namun pesan yang disampaikan dalam film ini sungguh relate. Ketika mengurus pernikahan terkadang pengantin wanita egois ingin pernikahannya harus begini dan begitu tanpa berunding dengan calon suami. Jika tidak berunding saat pernikahan? Bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah menikah? 
Bridezilla menceritakan impian pernikahan wanita, sayangnya penulis naskah dua-duanya adalah pria. Jadi rasanya ada sesuatu yang hilang atau kurang greget.  

Jadi Bridezilla, Lucinta Luna Tampil Jenaka

Bukan Lucinta Luna kalau tidak mencuri perhatian. Sibuk mencari sensasi di dunia nyata, di film pun rajin membuat sensasi dan berambisi pernikahannya menjadi wedding of the year. Tak perlu banyak usaha, dirinya berhasil membuat penonton tertawa.
Beberapa adegan lucu yaitu saat dirinya terjatuh di pesta pernikahan. Mungkin kamu sudah melihatnya dalam trailernya, namun dalam ada adegan kelanjutannya dalam film dan itu sangat lucu. Bersiap-siap ya! Kemudian saat dia bertarung dengan Dara di sebuah cafe. 
Walau tidak begitu sesuai ekspektasi, Bridezilla berhasil menghibur dengan beberapa lelucon dan munculnya sosok Lucinta Luna. Film ini juga memberikan pesan yang sungguh relate bagi kamu-kamu yang akan menuju jenjang pernikahan.  
Film Bridezilla tayang di bioskop 1 Agustus 2019, lihat jadwal bioskop dan beli tiket nonton kamu di BookMyShow atau ketuk banner di bawah ini. 

Me Before You

Me Before You | Movie Review

Me Before You (2016)
Sutradara: Thea Sharrock
Penulis naskah: Scott Neustadter, Michael H. Weber, Jojo Moyes
Produser: Karen Rosenfelt, Alison Owen
Pemain: Emilia Clarke, Sam Claflin, Janet McTeer, Jenna Coleman, Charles Dance, Brendan Coyle, Matthew Lewis.

Emilia Clarke, Sam Claflin, Janet McTeer, Jenna Coleman, Charles Dance, Brendan Coyle, Matthew Lewis, Samantha Spiro, Vanessa Kirby, Ben Lloyd-Hughes, Stephen Peacocke - See more at: http://www.wowkeren.com/film/me_before_you/#sthash.TbiJIx77.dpuf

Emilia Clarke, Sam Claflin, Janet McTeer, Jenna Coleman, Charles Dance, Brendan Coyle, Matthew Lewis, Samantha Spiro, Vanessa Kirby, Ben Lloyd-Hughes, Stephen Peacocke - See more at: http://www.wowkeren.com/film/me_before_you/#sthash.TbiJIx77.dpuf

Emilia Clarke, Sam Claflin, Janet McTeer, Jenna Coleman, Charles Dance, Brendan Coyle, Matthew Lewis, Samantha Spiro, Vanessa Kirby, Ben Lloyd-Hughes, Stephen Peacocke - See more at: http://www.wowkeren.com/film/me_before_you/#sthash.TbiJIx77.dpuf
Studio: Warner Bros
Based on Jojo Moyes book, Me Before You.
Will Traynor sangat mencintai hidupnya, dia telah pergi ke berbagai tempat dan melakukan berbagai hal yang disukai, seperti olahraga ekstream, menjadi pengusaha sukses, memiliki segalanya. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya lumpuh dari leher ke bawah, dia menderita quadriplegia. Pada mulanya Will terus berusaha untuk sembuh sampai akhirnya dia menyerah, dia sudah tidak lagi bisa menikmati hidup, dia kehilangan semangat untuk terus hidup. Will menjadi pribadi yang sarkastis, sinis, dan dingin, tidak ada yang mau mengurusnya karena semua ketakutan, kecuali Nathan seorang yang mengurus kebutuhan medis dirinya. Will membutuhkan seorang lagi untuk mengurus kesehariannya.
Louisa Clark, seorang gadis yang berusia 26 tahun baru saja kehilangan pekerjaanya di sebagai pelayan kafe, Lou bertugas membantu membiayai kebutuhan hidup keluarganya karena sang adik yang single mother, Treena harus kuliah, dia satu-satunya yang bisa diharapkan. Dia pergi ke Job Centre tapi tidak ada perkerjaan untuknya karena keahliannya terbatas, petugas pun menawari sebuah tawaran yang baru saja masuk dan bergaji lumayan, yaitu merawat orang cacat. Karena tidak ada pilihan lain dan Lou sangat membutuhkan uang, dia pun menerima tawaran tersebut. Perkerjaannya ternyata tidak semudah yang dibayangkan Lou, Will, orang yang harus dirawatnya sangat dingin dan tidak ingin diganggu, Lou merasa tidak betah karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi dia tidak bisa keluar karena hanya itu pekerjaan yang dia dapatkan. Ditambah ketika mantan pacarnya Will, Alicia dan sahabatnya Rupert datang dan mengabarkan kalau mereka akan menikah.

Will marah dan sangat terluka, hal tersebut bukannya membuat Lou semakin takut tapi membangkitkan Lou untuk tidak menyerah pada Will, Treena juga mendukung keputusan tersebut. Pendekatan dengan gaya unik pun membuat Will lebih terbuka dan mulai berkomunikasi, bahkan dia mengajak Lou menonton film Perancis menggunakan subtitle, memberikan kado ulang tahun yang sangat disukai Lou dan membahas tentang kehidupan mereka khususnya tentang impian Lou, tentang Lou yang tidak cocok dengan Patrick, cowoknya yang lebih mementingkan olahraga daripada apa pun, bahwa Lou sebenarnya memiliki potensi besar dalam dirinya dibalik penampilannya yang unik dan sangat sia-sia kalau dia hanya ada di kota kecil tempat selama ini dia tinggali.
Suatu ketika saat Will sakit, Lou tidak sengaja melihat luka di tangan Will, percobaan bunuh diri tersebut ternyata menjadi pilihan Will karena ibunya menolak ketika Will ingin mengikuti Dignitas (sebuah organisasi yang membantu orang-orang terminal untuk mengakhiri hidup mereka yang berlokasi di Swiss). Ibunya pun memberikan waktu selama enam bulan agar Will memikirkan kembali dan siapa tahu dalam enam bulan tersebut keputusannya akan berubah. Hal tersebut semakin memacu Lou untuk membuat Will lebih menghargai hidupnya, bahwa dia bisa menjalani hidup walau tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Lou pun membuat rencana perjalanan agar membuat Will berubah pikiran, mulai dari mendatangi pacuan kuda, orkestra sampai ke tempat-tempat indah. Enam bulan waktu yang dibutuhkan Lou agar orang yang dicintainya memperjuangkan hidupnya.
 



Akhirnya kesampaian nonton juga setelah menanti-nanti sejak trailernya diputar dan yakin nggak akan tayang di Indonesia, untungnya ada streamingnya yang bisa kalian tonton di sini XD. Sejujurnya filmnya jauh dari ekspektasi saya, dilihat dari trailernya sepertinya menggoda, apalagi dibintangi oleh Emilia Clarke dan Sam Claflin serta setting yang sangat indah, tapi ketika sepanjang menonton sampai akhir cerita tidak ada bagian yang benar-benar membuat saya terharu atau wah, tidak seperti ketika saya membaca bukunya. Dari segi cerita sebenarnya tidak terlalu mengalami perombakan yang cukup besar, mungkin karena ada nama Jojo Moyes, sang pemilik cerita yang ikut andil dalam pembuatan naskah, hanya saja ketika saya menonton saya sedikit merasakan bosan.

Hal yang saya sukai dari film adaptasi dari novel Me Before You ini adalah peran Louisa Clark sangat baik diperankan Emilia Clarke, keunikannya, kepolosannya, style-nya, apa yang saya bayangkan cukup tercermin pada dirinya, dan saya sangat-sangat suka isi kamarnya, sepatunya yang aduhai cantik banget digantung berjejer, gaun-gaunnya yang colorfull dan vintage bikin saya iri sepanjang nonton! Saya bisa merasakan beban Lou dari keluarganya, bagaimana dia awalnya tidak menyukai Will tapi begitu melihat kehidupannya yang tidak mudah dia bisa bersimpati dan ingin membuat Will bersemangat lagi. Saya juga sangat menyukai seetting ceritanya, kastil-kastilnya indah banget.

Sayangnya saya merasa akting Sam Claflin tidak sebaik peran Mother of Dragons yang menjadi lawan mainnya tersebut. Chemistry mereka juga nggak terlalu terasa, saya nggak merasakan kalau Will memiliki perasaan yang sama seperti Lou, aktingnya datar dan membosankan, saya tidak bisa tergila-gila padanya, yang saya dapatkan dari dirinya hopeless yang berkepanjangan. Saya lebih terhibur dengan akting para pemeran pembantunya, entah itu mulai dari Nathan yang sangat mengerti kebutuhan Will, ibunya yang sangat menyayangi dan berusaha menghadirkan seseorang yang bisa menghiburnya, sampai ayahnya Will yang sebenarnya tidak memiliki hubungan yang baik dengan istrinya tapi demi Will dia berkompromi.

Yah, walau tidak memuaskan seratus persen, setidaknya film ini tetap membawa pesan yang bagus, sebuah isu yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan yaitu euthanasia, hak untuk hidup, tentang pilihan seseorang di mana orang lain tidak bisa ikut merasakannya. Setidaknya, dari sosok Will kita bisa memahami bahwa mereka yang cacat fisik dan tidak ada lagi harapan untuk kesembuhan, berusaha hidup dengan ketidaksempurnaan, ada masa di mana mereka lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Sedangkan dari Lou, kita bisa melihat bahwa masa lalu yang kelam dapat mengubah seseorang dan membuatnya menyembunyikan potensi yang dimiliki, Will ingin Lou menyadari akan kelebihannya, untuk keluar dari zona nyaman, dan dia memiliki kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk mewujudkan semua impiannya, Lou harus bahagia atas hidupnya, dia harus menikmatinya.

Film ini bisa dinikmati oleh remaja ke atas, tidak ada adegan dewasa yang vulgar, hanya ada beberapa adegan ciuman yang bisa diterima secara wajar. Recommended bagi yang ingin menonton film bergenre sicklit, mental illness. Oh ya, lanjutan bukunya, After You juga akan diterbitkan oleh Gramedia, kemungkinan terbit bulan ini, semoga aja nanti juga dibuat filmnya ya :D.

3 sayap untuk live boldly, live well, just live.

Stardust

Stardust (2007)

Stardust1
Stardust (2007) adalah film fantasi yang berhasil memenangkan Hugo Award 2007 untuk kategori best dramatic presentation. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Neil Gaiman dengan judul yang sama, Stardust.
Pada Stardust (2007), terdapat sebuah tembok yang konon menjadi pembatas antara dunia manusia dan dunia kerajaan Stormhold yang penuh sihir. Pada tembok tersebut terdapat celah yang selalu dijaga oleh seorang penjaga tua dengan tujuan agar tak ada orang atau mahluk dapat sembarangan melewati 2 dunia tersebut.
Stardust10
Pada suatu hari si penjaga tua mengantarkan bayi laki-laki yang berasal dari kerajaan Stormhold, ke rumah Dustan Thorn (Nathaniel Parker). Bayi laki-laki tersebut tumbuh menjadi seorang pemuda baik hati yang bernama Tristan Thorn (Charlie Cox). Pada suatu malam Tristan melihat bintang jatuh dari langit. Ia kemudian pergi ke lokasi dimana bintang tersebut jatuh dengan tujuan untuk memperoleh mahar, mahar untuk meminang seorang wanita yang menolak Tristan dan berprilaku agak brengsek.
Tristan kaget ketika ia mengetahui bahwa wujud bintang jatuh tersebut ternyata berwujud seorang wanita yang bernama Yvaine (Claire Danes). Awalnya Tristan memperlakukan Yvaine sebagai hasil tangkapan yang akan ia bawa kembali ke rumahnya. Perlahan, cinta mulai tumbuh diantara Tristan dan Yvaine. Namun pada perjalannya, Tristan dan Yvaine harus berkali-kali melarikan diri dari berbagai pihak yang memperebutkan Yvaine. Diantaranya ada Lamia (Michelle Pfeiffer), seorang penyihir yang ingin mengorbankan Yvaine agar ia dan saudari-saudarinya dapat hidup awet muda. Kemudian ada Primus (Jason Flemyng) dan Septimus (Mark Strong) yang ingin menangkap Yvaine demi tahta kerajaan Stormhold.
Stardust2
Stardust9
Stardust6
Stardust5
Stardust12
Stardust13
Stardust11
Stardust8
Stardust
Stardust4
Stardust7
Stardust15
Stardust14
Stardust16
Disini terdapat intrik, taktik dan perubahan persekutuan. Jalan cerita Stardust (2007) menarik dan tidak membosankan, bagaikan dongeng tapi bukan dongeng sederhana untuk anak-anak :). Special effect yang ditampilkan pun tergolong bagus untuk film keluaran tahun 2007. Karena itulah Stardust (2007) pantas untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Kingsman THe GOlden Circle

Review Film: Kingsman: The Golden Circle Tetap Menggoda Meski dengan Formula Sama

Tiga tahun setelah kesuksesan Kingsman: The Secret Service, sutradara Mathew Vaughn kembali menggarap kelanjutan kisahnya lewat sekuel berjudul Kingsman: The Golden Circle. Nah buat kamu yang tidak terlalu suka dengan film action spy yang dikemas serius seperti film-film James Bond, Kingsman bisa jadi jawabannya. Dikemas dengan format yang lebih ringan dan menghibur, Kingsman: The Golden Circle akan kembali melanjutkan perjalanan para anggota Kingsman melawan musuh-musuh baru yang tidak kalah bengis dibanding film pertamanya.
Kingsman: The Golden Circle masih dibintangi Taron Egerton yang memerankan karakter Eggsy, seorang bocah bengal yang bertransformasi menjadi agen spy, Kingsman. Di film keduanya Eggsy telah resmi direkrut sebagai salah satu agen andalan Kingsman. Dengan ciri khas setelan necis dan senjata-senjata futuristik, Eggsy akan kembali beraksi melawan para penjahat.
Sayangnya Charlie (Edward Holcroft), mantan rekrutan Kingsman yang tidak berhasil lolos masih memburu Eggsy. Kali ini Charlie kembali dengan kekuatan super berupa tangan robotik yang menggantikan tangan kanannya yang patah. Meski Eggsy berhasil melumpuhkan Charlie namun ia tidak sadar kalau tangan robotik Charlie bisa dikendalikan dari jauh dan meng-hack data-data Kingsman di mobil Eggsy.
Data-data tersebut sampai ke tangan bos Charlie, pimpinan kerajaan narkoba terbesar yang dibangun di tengah hutan terpencil bernama Golden Circle. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang wanita psycho bernama Poppy (Julianne Moore). Tanpa basa-basi Poppy meluluh-lantakkan markas Kingsman dan kediaman para anggota Kingsman termasuk Eggsy, Merlin (Mark Strong), dan Roxy (Sophie Cookson). Beruntung Eggsy bisa selamat karena sedang pergi makan malam di rumah Princess Tilde (Hanna Alström), pacarnya yang berstatus putri kerajaan Swedia. Sementara itu Merlin juga berhasil lolos karena profilnya tidak masuk dalam database Kingsman.
Eggsy dan Merlin dihadapkan pada situasi sulit. Nasib lalu membawa mereka terbang ke markas Statesman, organisasi spy yang bermukim di Kentucky, Amerika Serikat. Jika Kingsman bersembunyi di balik bisnis penjahit jas, Statesman menyamar di balik bisnis alkohol. Di sanalah ia bertemu dengan agen-agen Statesman seperti Tequila (Channing Tatum), Whiskey (Pedro Pascal), Ginger (Halle Berry), dan pimpinan Statesman, Champ (Jeff Bridges).
Dan yang paling membuat Eggsy dan Merlin terkejut adalah mereka kembali dipertemukan dengan Harry Hart (Colin Firth), agen handal Kingsman sekaligus pembimbing Eggsy yang ditembak Valentine (Samuel L. Jackson) di film pertama. Harry ternyata masih hidup namun ia menderita amnesia, bahkan tidak ingat sama sekali dengan Eggsy dan Merlin.
Sementara itu Poppy makin merajalela. Demi mewujudkan mimpi menguasai dunia, Poppy menanamkan racun pada narkoba-narkoba yang diedarkannya. Racun tersebut membuat pemakainya mengalami ruam biru di sekujur tubuh hingga menderita kegilaan, lumpuh, dan mati. Salah satu korbannya adalah Princess Tilde, pacar Eggsy.  Poppy kemudian menawarkan penawarnya dengan beberapa syarat yang ia ajukan kepada Presiden Amerika Serikat yaitu membuat bisnis narkobanya menjadi legal.
Akankah Eggsy berhasil menyelamatkan sang pacar dan penduduk dunia dari racun yang disebarkan Poppy? Sanggupkah Harry Hart kembali mengingat masa lalunya dan menemani perjuangan Eggsy? Jawabannya sudah pasti bisa kamu tebak jika menyaksikan film ini.
Formula yang hampir sama
Sebagai film sekuel, Kingsman: The Golden Circle tampaknya punya beban berat untuk bisa menyusul kesuksesan film pertamanya. Seperti The Secret Service, sekuel filmnya masih tetap menghibur dan dikemas dengan gaya bertutur yang ringan dan kocak.
Sayang film ini seakan tak mampu move on dari film pertamanya. Film keduanya turut mengusung formula yang sama, salah satunya karakter villain yang hampir mirip dengan film pertamanya. Jika di film pertama ada Valentine yang ditemani Gazelle, manusia berkaki robot. Di film kedua muncul karakter Poppy yang ditemani Charlie, manusia bertangan robot. Dua-duanya bahkan punya tipikal karakter yang sama-sama psycho dan terobsesi menguasai dunia. Kekurangan lain ada beberapa teknologi CGI yang masih kasar dan juga jalan cerita yang mudah ditebak.
Meski begitu Kingsman: The Golden Circle tetap punya daya tarik yang mumpuni. Kita akan dibuat gemas melihat aksi Eggsy sebagai agen mata-mata dengan kemampuan yang lebih profesional dibanding film pertamanya. Selain itu penampilan aktor-aktor pembantu seperti Pedro Pascal dan Channing Tatum cukup mampu menghidupkan film dengan sentuhan Western.
The Golden Circle juga masih menyuguhkan hal-hal futuristik yang tidak bisa lepas dari film ini seperti penggunaan senjata-senjata canggih yang disamarkan dalam bentuk payung, koper, bolpoin, lasso, dan masih banyak lagi yang pastinya sangat lekat dengan ciri khas film Kingsman.
Kingsman: The Golden Circle sangat tepat buat kamu sudah kangen menyaksikan kembali penampilan Eggsy dan kawan-kawan. Film aksi komedi ini tayang di bioskop Indonesia mulai 20 September 2017. Penasaran? Pesan tiketnya di sini.

THe kid who would be King

Review Film: The Kid Who Would Be King, Petualangan yang Menghibur

review-film-kid-who-would-be-king-petualangan-yang-menghibur
Film Hollywood bertema petualangan seolah tidak pernah ada habisnya. Terbaru, The Kid Who Would Be King akan segera tayang di bioskop pada hari rabu besok, 23 Januari 2019. Sebelum kamu menonton filmnya di bioskop, berikut review The Kid Who Would Be King dari BookMyShow.
Keusilan Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Dorris) selalu menjengkelkan. Tidak terkecuali Alex (Louis Ashbourne Serkis), yang mendapati sahabatnya Bedders (Dean Chaumoo) mendapatkan persekusi dari Lance dan Kaye.
Gerah dengan keadaan tersebut, Alex kemudian berusaha menantang Lance dan Kaye. Namun, apa daya, Alex yang kecil, kalah dan terjerembab di sebuah bangunan yang sedang direkonstruksi. Namun, di satu sisi, Alex beruntung menemukan sebilah pedang yang tertancap di fondasi bangunan.
Penasaran, Alex kemudian berusaha mencari tahu pedang tersebut. Bersama Bedders, mereka berusaha mencari makna dari kata-kata yang terukir pada bagian-bagian pedang tersebut. Terkejut, tentu saja. Kedua bocah ini tidak percaya, bahwa pedang tersebut adalah milik mendiang King Arthur, Raja yang pernah menyatukan kerajaan-kerajaan dari Inggris.
Lebih tidak percayanya lagi, Alex dan Bedders harus bertemu dengan Merlin, sang penyihir dan Morgana, saudara tiri King Arthur yang bangkit dari neraka. Konyolnya lagi, Alex dan Bedders harus bekerjasama dengan Lance dan Kanye karena Inggris di masa modern sedang terancam dengan kehadiran Morgana.
Bisakah Alex menyelesaikan semua permasalahan ini? Apakah mengembalikan pedang yang sudah tertancap tadi bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi seorang bocah? Semua petualangan Alex akan disajikan melalui film The Kid Who Would Be King yang menghibur.

Klise, Namun Menghibur

review-film-the-kid-who-would-be-king-petualangan-yang-menghibur
Sumber: 20th Fox Century
Seperti halnya film petualangan yang melibatkan atau mengisahkan bocah-bocah, The Kid Who Would Be King memiliki jalan cerita yang klise. Mulai dari persahabatan, konflik keluarga hingga misi yang tidak masuk akal harus mereka lewati. Semua paparan cerita ini disajikan dengan baik dan detil oleh sutradara Joe Cornish.
Berbagai permasalahan yang dihadapi Alex sebagai pemeran utama dibahas secara detil. Termasuk ketika Alex bertualang dengan teman-temannya, Lance dan Kaye hingga penyihir jenaka yang harus menggunakan nama samaran “Mertin”. Namun, apa yang disajikan film ini sebenarnya cukup klise.
Petualangan, dengan menyematkan semangat persahabatan dan menjadi seorang pemimpin adalah cerita klise yang mungkin saja kamu temukan di film-film petualangan lainnya. Salah satu daya tarik The King Who Would Be King adalah bagaimana sejarah Britania Raya ribuan tahun lalu yang dikemas dengan gaya kekinian.
Hiburan ini yang akan kamu dapatkan di sepanjang film. Lihat saja bagaimana anak-anak masa kini yang masih menggunakan gadget mereka, namun tetap memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Fantasi ini yang kemudian diadaptasi dengan sangat menghibur. Bagaimana sekelompok bocah harus bertualang melewati sebuah dunia sihir, berpetualangan melawan mayat hidup hingga menunggang kuda dengan baju perisai ala tentara di abad ke 5.
Ditambah lagi, “Mertin” (Angus Imrie) memainkan gaya yang sangat jenaka di film ini. Gerakan-gerakan tipuannya terkesan tidak masuk akal, namun tetap mampu membuat gelak tawa. Belum lagi, karakter Bedders yang sebenarnya sangat cupu, namun mampu membuat penonton menjadi tertawa.
Masih ada lagi! Dunia fantasi dengan menempatkan Morgana (Rebecca Ferguson) sebagai sosok yang jahat berhasil divisualisasikan dengan baik. Bersama pasukan mayat hidupnya, Morgana menambah keseruan petualangan Alex dan kawan-kawan di sepanjang film.
Namun, film ini masih membutuhkan beberapa perbaikan. Beberapa candaan yang lahir dalam dialog-dialog terkesan garing. Mungkin saja karena film ini memang sepenuhnya merujuk pada gaya komedi satir Inggris yang kadang tidak dimengerti oleh semua orang.

Sangat “British”

review-film-kid-who-would-be-king-petualangan-yang-menghibur
Sumber: 20th Century Fox
Secara keseluruhan, mulai dari sutradara hingga pemerannya rata-rata berasal dari Inggris. Mulai dari kisah cerita masa lalu hingga kehidupan Inggris di masa kini, dan tentu saja aksen “British” yang terkesan elegan bisa kamu saksikan di film ini. Buat kamu yang ingin menyaksikan film dengan dialog-dialog “British”, The Kid Who Would Be King adalah rekomendasi yang tepat.
Tidak hanya itu, film ini juga menggambarkan beberapa kebudayaan Inggris yang cukup terasa. Sebuah meja bundar, teh, dan beberapa camilan yang menjadi kebiasaan orang Inggris juga ditampilkan di dalam film ini. Secara tidak langsung, gambaran ini diselipkan dalam kisah “kesatria meja bundar” persis seperti apa yang pernah dilakukan King Arthur ketika merangkul lawan-lawannya untuk berdiskusi dan menyampaikan gagasannya di masa lalu.
Satu lagi, satu pulau di Inggris yang konon kabarnya punya nilai sejarah juga ditampilkan di dalam film ini. Benar-benar menggambarkan Inggris yang berbeda dengan hingar-bingar London, Manchester, atau kota-kota besar lainnya.
Menonton bersama keluarga, tentunya adalah pilihan yang sangat tepat. Tayang mulai datanggal 23 Januari 2019, kamu bisa pesan tiket bioskopnya di situs atau aplikasi BookMyShow yang tersedia gratis untuk pengguna Android dan iOS.

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban

[REVIEW] Harry Potter and The Prisoner of Azkaban (2004)

Masih dengan latar belakang film British, yang satu ini sudah ada sejak jaman saya masih SD : Harry Potter. Sewaktu SD bocah-bocah seumuran saya suka terkagum setiap kali film ini tayang di layar televisi. Barangkali bukan karena ceritanya―membaca baris tulisan berjalan di bawah gambar tidak menarik bagi bocah―karena Harry Potter mengisahkan penyihir dengan trik-trik sihirnya, film ini bagi saya adalah pioneer film fantasy dengan editan “terbersih” pada masanya.
Dari ketujuh seri film ini, salah satu yang favorit adalah Harry Potter (3) And The Prisoner of Azkaban. Seminggu terakhir saya mulai mengulang untuk menonton film yang mulai orbit tahun 2001 ini sedikit-sedikit, disempetin di sela tugas sekolah numpuk. Saya bingung awit dari mana. To the Point aja ya :
Satu kata untuk Harry Potter ? Tentu saja, Magic.
Dari awal menonton saya langsung dibuat kagum. Dari segi cerita, juga gambar. Harry Potter menyuguhkan fairytale yang didamba-dambakan dunia hiburan pada masanya. Dunia harus mengetahui kejeniusan J. K. Rowling sebagai penulis novel fantasy yang jadi kiblatnya ini. Harry Potter adalah film paling keren pertama di abad ke-21!
harry-potter-and-the-prisoner-of-azkaban.11669“Sihir itu tidak nyata. Banyak orang beranggapan fairytale hanya untuk anak-anak.” That-is-a-big-rubbish. Setiap orang butuh cerita khayalnya sendiri, bahkan orang dewasa sekalipun. Inilah yang diberikan Harry Potter, fantasi yang cocok untuk semua golongan.
Berkisah dari Harry, bayi yang selamat dari tangan Voldemort dan kemudian diasuh oleh keluarga bibinya yang luar biasa menyedihkan, akhirnya Harry pada umur kesebelas dipanggil untuk bersekolah di tempat ayah dan ibunya dulu bertemu dan belajar ilmu sihir. Dua seri pertama selalu mengisahkan bagaimana pertemuan Harry dan Voldemort, penyihir hitam terkejam yang mana orang-orang hanya memanggilnya dengan You-Know-Who sekaligus pembunuh kedua orang tuanya. Pertemuan singkat, pun tidak dengan wujud asli Voldemort yang bikin penasaran.
Di seri ketiga, dikisahkan Harry yang tidak betah lagi tinggal bersama keluarga bibi yang selalu menindas dan menjelek-jelekkan kedua orang tuanya, Akhirnya ia pergi dengan naik bus dari dunia sihir yang datang padanya, untuk menjemput Penyihir yang Tersesat. Kisah terus berlanjut hingga Harry kembali ke Hogwarts di tahun ajaran baru. Berita mengerikan tersebar, bahwa Sirius Black, seorang tahanan penjara Azkaban (penjara bagi penjahat kelas berat) berhasil kabur dan jadi buronan. Desas-desus menyebar jika ia merupakan pengikut Voldemort. Harry diberitahu bahwa Sirius kabur untuk mencari Harry, satu-satunya musuh bagi Voldemort yang tersisa.
sirius_black_wanted_gif_by_nightgrowler-d3443e2Poster yang tersebar terkesan serem. Namun kejeniusan dari kisah Harry Potter adalah, semua yang ada bisa selalu terbalik kemudian.
Karena berita ini, lingkungan Hogwarts dikelilingi oleh para Dementor, namun entah mengapa makhluk-mahluk ini lebih suka mendekati Harry. Terkena ciumannya akan terasa menyiksa, namun ketika itulah ia diselamatkan oleh guru Ilmu Penangkal Sihir Hitam Hogwats yang baru, Professor Lupin. Dari tiga seri guru Ilmu Penangkal Sihir Hitam selalu diganti karena biasanya darisanalah villain muncul, namun kali ini mungkin tidak.
Kisah berlanjut, mengombang ambingkan anggapan tentang siapa yang buruk – siapa yang baik. Prof Lupin telah berkali-kali menyelamatkan Harry dari Dementor dan Prof Snape, namun ternyata ia berkawan dengan Sirius Black. Namun apakah Sirius Black jahat? ternyata tidak, malahan ia disebut-sebut sebagai Harry’s Godfather (ayah babtis / ayah pelindung Harry Potter sewaktu masih bayi). Awalnya ku kira Prof Snape jahat karena membenci Harry dkk Gryffindor, namun ternyata ia memberi sinyal tersirat bahwa guru mereka Prof Lupin merupakan werewolf (serigala jadi-jadian) dan menyelamatkan Harry darinya. Tikus peliharaan Ron yang innocent malah merupakan perubahan wujud seorang pengikut Voldemort sesungguhnya, yang menghianati kedua orang tua Harry.
Oh iya, satu quote yang terkenal dari seri ini. Kata-kata Kepala Sekolah Sihir yang bijak, ketika ketakutan akan dementors yang melindungi sekaligus berbahaya bagi warga Hogwarts sendiri,
“Happiness can be found even in the Darkest of the time, if one only remembers to turn on the light” ―Albus Dumbledore
The TIME PARADOX
Hal-hal menarik terjadi di seri ini, salah satunya di perempat akhir filmnya : dikisahkan Sirius Black akan diserahkan kepada Dementor untuk dihukum. Harry Potter dan Hermione Granger ingin menyelamatkannya, namun bagaimana? Albus Dumbledore pun datang, memberi saran dan isyarat yang hanya dipahami oleh Hermione. albus1timeparTernyata mereka harus kembali ke masa lalu, menggunakan kalung waktu yang diberikan Prof McGonagall padanya untuk mengikuti pelajaran sepanjang tahun (inilah alasan mengapa ia bisa begitu pintar). Kejadian-kejadian yang belum jelaspun terurai, seperti pada saat hukuman mati Buckbeak, seekor Hippogriff, ternyata hewan itu tidak benar-benar mati seperti yang―paling tidak―Harry, Ron dan Hermione ketahui sebelumnya. Ternyata mereka tidak melihat, bahwa hewan innocent itu sudah diselamatkan lebih dulu oleh Harry dan Hermione dari masa depan. Mereka hanya tidak boleh melihatnya saja. Yang mereka lihat tak lain adalah Algojo yang memotong buah labu besar.
Siapa yang melempar batu di rumah Hagrid? ternyata adalah Hermione sendiri, untuk menyadarkan mereka di masa lalu bahwa Dumbledore, Menteri dan Algojo akan segera datang. Yang melolong kepada werewolf untuk menyelamatkan Harry juga Hermione.
Sampai pada saat di danau, ketika Harry dan Black dikelilingi banyak dementor dan mereka sedang tersiksa. Harry yang percaya bahwa yang menyelamatkannya waktu itu adalah ayahnya akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Tumblr_m9dlcwP2yr1qiyseco3_250Bagaimana bisa? itulah yang pertama muncul di pikiran. Time paradox, dimana jika Harry tidak melakukannya maka “masa depan” akan berubah. Masih bingung? Jika Harry memilih untuk menunggu ayah yang diharapkannya muncul sambil menonton dirinya sendiri sekarat, masa depan yang terbentuk selanjutnya, salah satunya, mungkin dengan kematian dirinya. Jika dirinya mati, tidak akan ada masa dimana Harry dan Hermione memperbaiki masa lalu, itu artinya tidak akan ada masa lalu dan saat ini.
Itulah mengapa Harry berkata ia spontan melakukannya, seakan-akan ia terdorong karena sudah melakukannya sebelum ini. Bukan, bukan berkat latihan dengan Prof Lupin waktu itu, tetapi memang sudah “ditakdirkan” untuk melakukannya. dengan itu Harry mendapati bukan Ayahnya yang datang waktu itu melainkan ia menyelamatkan dirinya sendiri.
Membingungkan? Perkenalkan, namanya Paradoks.
Kalau tertarik dengan teori Paradoks Waktu masih banyak film yang mengambil tema tersebut : Film lawas Back To The Future dan sedikit ada di Doraemon terbaru Stand by Me, semuanya jenius, yang saya pilih paling favorit, ya Harry Potter and The Prisoner of Azkaban.
Tidak banyak yang perlu dikoreksi dari film ini, hampir sempurna. Cerita udah asli bagus. Latar London tempo dulu adalah favorit saya. Trik-trik sihir yang disuguhkan memukau, gak terlalu ngetarani, editan dan animasi badaiii. Akting pemain oke (Daniel Radcliff, Emma Watson dan Alan Rickman aka Severus Snape ane ngidol banget) Mungkin cuma gara-gara film terbitan lama, kualitas dan sudut pengambilan gambar di beberapa scene kurang dikiit. Tapi gak bisa nyalahin apa-apa, sudah bagus begini apa adanya kok.