Wednesday, December 11, 2019

The Secret Life of Walter Mitty

[Review] The Secret Life of Walter Mitty (2013)

"To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer,
to find each other, and to feel. That is the purpose of life." - Walter Mitty
Berkhayal mungkin adalah pekerjaan yang paling menyenangkan bagi banyak orang. Di dalam khayalan, setiap orang bebas mempunyai atau melakukan hal-hal di luar yang bisa terjadi dunia nyata. Ekspresi yang tak terbatas sangat mungkin berada dalam dunia khayalan. Setidaknya itulah karakter seorang Walter Mitty. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama yang dipublikasikan pada tahun 1939 oleh James Thurber ─seorang kartunis, penulis, dan jurnalis sebuah majalah terkenal waktu itu. Tak usah khawatir melihat tahun 1939-nya (walaupun saya sendiri juga belom membaca cerita pendek aslinya), ditangan sutradara yang juga sekaligus menjadi pemeran utamanya, Ben Stiller (Night at The Museum dwilogy, Tropic Thunder) merubah The Secret Life of Walter Mitty menjadi sebuah road movie yang bersetting modern dan sangat bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai kalangan. Mungkin ini sebuah film yang ditujukan bagi pegawai kantoran dengan pekerjaan membosankannya yang ingin mencari arti hidup.

Underworld: Rise of The Lycans

Underworld: Rise of The Lycans (2009)

Alih-alih melanjutkan cerita dari Underworld: Evolution, pembuat film lebih memilih untuk membawa penonton kembali ke berabad-abad yang lalu dari dunia Underworld. Menceritakan tentang pemimpin bangsa Lycan yang pertama yaitu Lucian, sekalipun dia merupakan Lycan, dia diizinkan untuk mengabdi kepada keluarga kerajaan Vampir yang dipimpin oleh Viktor sebagai budak. Diam-diam Lucian menjalin cinta dengan Sonja, putri tunggal Viktor. Selang beberapa lama pun hubungan mereka terbongkar, Viktor pun murka karena sebenarnya hubungan Lucian dan Sonja adalah terlarang. Atas nama hukum Vampir, Viktor tega untuk menghukum mati putri tunggalnya dan menyebabkan Lucian membalas dendam dengan memanggil pasukan Lycan untuk menyerang kerajaan. Kali ini kursi sutradara diserahkan kepada Patrick Tatopoulos, yang mana justru memiliki ajalan cerita yang menyenangkan. Underworld: Rise of The Lycans adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dua film sebelumnya. Masih bernuansa gelap dan menimbulkan kesan dingin, penonton diajak ke awal mula perang abadi antara dua monster legenda. Hanya saja adegan pertarungan yang terlihat biasa saja menyebabkan kebosanan di pertengahan film. Tanpa Kate Beckinsale yang fenomenal itu, Rhona Mitra yang berperan sebagai Sonja tetap belum sanggup mengisi kekosongan sebagai sosok Vampir yang anggun. Durasi yang lebih sebentar dari dua film sebelumnya membuat jalan cerita Underworld: Rise of The Lycans lebih padat dan membuatnya menjadi sekedar hiburan tanpa berbelit-belit.

Underworld: Evolution

Underworld: Evolution (2006)

Marcus dan Viktor adalah tetua dari bangsa Vampir yang sudah lama ditidurkan. Mereka harus menunggu waktu yang tepat untuk dibangkitkan. Viktor yang lebih dulu dibangkitkan di film pertamanya, mengalami nasib yang naas. Karena unsur ketidaksengajaan, Marcus pun bangkit dari tidurnya yang panjang dan mengetahui fakta-fakta bahwa Selene telah membunuh Viktor dan sekarang kabur bersama Michael Corvin yang sudah berubah menjadi monster setengah Vampir setengah Lycans bernama Hybrid. Marcus yang murka pun segera memburu keduanya. Masih disutradarai Len Wiseman dan dengan formula yang sama, Underworld: Evolution hadir untuk melanjutkan kisah dari Underworld. Tentu saja masih dengan nuansa yang kelam. Kali ini berfokus pada kenyataan tentang masa lalu, diperlihatkan cuplikan adegan pembuka tentang masa lalu Marcus dan Victor sebagai jalan penonton untuk memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan dalam film ini. Underworld: Evolution masih dibalut dengan aksi penuh darah serta deretan mahkluk-mahkluk baru yang sepertinya akan membuat penonton semakin girang. Lagi-lagi tak ada sesuatu yang spesial untuk adegan aksinya. Dari kekurangan di film pertamanya, kali ini Len Wiseman cukup cerdas untuk memangkas durasinya sehingga lebih cepat dari film pertamanya. Hanya saja masih terkesan dangkal dan datar. Kate Beckinsale terlihat sudah begitu menyatu dengan Selene, tapi sayang sosok Marcus tidak terlihat semengerikan sosoknya. Underworld: Evolution bisa dikatakan semakin menghibur.

Last Christmas

Review 'Last Christmas': Tak Seperti Film Komedi Romantis Biasa

Untitled Image
Poster film Last Christmas (Foto: Universal Pictures)
Play Stop Rewatch, Jakarta – Setiap tahun, momen natal selalu diwarnai dengan rilisnya film-film yang bertema “Christmas Movie”. Tidak terkecuali tahun ini, di mana salah satu dari daftar Christmas Movie 2019 adalah film Last Christmas.
ADVERTISEMENT
Film ini disutradarai oleh Paul Feig, dibintangi oleh Emilia Clarke (Game of Thrones), Henry Golding (Crazy Rich Asians), serta beberapa legenda hidup industri perfilman seperti Michelle Yeoh dan Emma Thompson. Bahkan, Emma Thompson juga mendapat credit sebagai penulis screenplay untuk film ini. Kabarnya, Thompson bahkan sudah memulai penulisan script untuk film ini sejak 2010.
Untitled Image
Kate dan Tom (Foto: Universal Pictures)
Last Christmas menceritakan tentang kehidupan seorang wanita bernama Kate (Clarke) yang bekerja di sebuah toko yang menjual barang-barang bernuansa natal milik Santa (Yeoh). Hidupnya boleh dibilang cukup berantakan hingga akhirnya dia bertemu seorang pria bernama Tom (Golding), yang terlihat sangat dewasa, dan anehnya terasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan Kate.
Sejak itu, sedikit demi sedikit Kate mulai menata hidupnya. Mulai dari berusaha memperbaiki kinerjanya di toko Santa, menjalin kembali hubungannya dengan keluarganya, serta berusaha membantu para tunawisma sebagai sukarelawan di tempat Tom bekerja. Namun, seperti halnya kehidupan nyata, selalu ada konflik yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan Kate harus menghadapinya.
ADVERTISEMENT
Karakter Kate akan mengingatkan kita pada Annie (Kristen Wiig) dari film Bridesmaids (2011) serta Ashbudn (Sandra Bullock) dari film The Heat (2013), yang mana kedua film tersebut juga disutradarai oleh Paul Feig. Ketiga film ini memiliki kesamaan, lead female character-nya memiliki pembawaan yang canggung serta kehidupan pribadi yang kurang mulus. Tampaknya hal ini merupakan salah satu ciri khas Paul Feig.
Untitled Image
Salah satu cuplikan dari film Last Christmas (Foto: Universal Pictures)
Film ini juga menjadi kolaborasi kedua antara Feig dan Henry Golding setelah A Simple Favor (2018). Golding juga menjadi lead male character di film Crazy Rich Asians (2018), film di mana dia pun beradu akting dengan Michelle Yeoh. Sementara bagi Emilia Clarke, film ini merupakan film dengan tema romantis keduanya setelah Me Before You (2016).
ADVERTISEMENT
Last Christmas, seperti halnya Bridesmaids (2011), bukan merupakan komedi romantis biasa. Semua koneksi Kate dengan orang-orang di sekitarnya terasa sangat realistis, mulai dari hubungan dengan bosnya, dengan ibu dan ayahnya, serta saudarinya yang naik-turun. Justru, hubungan antara Kate dengan love interest utamanya, Tom, terasa kurang nyata. Namun pada akhirnya, Last Christmas tetap memberikan kesan heartwarming dan menghibur.
Sentuhan komedi yang quirky ala Paul Feig cukup terasa di film ini. Michelle Yeoh, memesona dan elegan seperti biasanya, namun juga mampu membuat kita tertawa dengan comedy-chop yang cukup kuat. Bahkan, secara mengejutkan, duo polisi wanita yang diperankan oleh Laura Evelyn dan Ingrid Oliver berhasil mencuri perhatian dengan jokes-nya, meskipun hanya tampil dalam durasi yang boleh dibilang sedikit.
ADVERTISEMENT
PSR memberikan nilai 7/10 untuk Last Christmas. Bagi anda yang ingin menonton hiburan yang tidak terlalu berat, Last Christmas sangat direkomendasikan untuk tontonan natal.

Quarantine

REVIEW: QUARANTINE





















"On March 11 2008, the government sealed off an apartment complex in Los Angeles. The residents were never seen again. No details. No witnesses. No evidence. Until now."

Quarantine adalah remake dari film horor Spanyol tahun 2007, berjudul Rec. Tadinya saya ga terlalu tertarik buat nonton film ini, pertama karena covernya ga menarik minat nonton saya, dua karena saya bukan penggila horor atau thriller dan sejenisnya. Hehe.. Tapi semenjak buat blog, saya harus lebih objektif dong dalam nonton film, ga boleh cuma nonton genre favorit saya aja, nanti yang baca malah boseeeennn.. ^^ Well, akhirnya senin kemarin saya nonton Quarantine juga! Sebelumnya saya sempet dapat komentar buruk tentang film ini dari mama saya yang udah nonton duluan, katanya dia sampai mabok nontonnya! Iya, MABOK katanya! Awalnya saya ga ngerti maksudnya apaaaaa, dalam hati saya koq mama saya katrok banget, masa nonton horor dikit sampai mabok gitu. Haha.. Dan ternyataaaaaaaa..saya juga mabok nonton Quarantine! Ga tau apa karena kena sugesti sama kata" mama saya atau emang filmnya yang punya efek bikin orang mabok? Fiuhhh..awalnya sih biasa aja, tapi terakhir" perut saya muaaaaaalllll! Well mungkin pengaruh belum makan juga kali yaa, jd perut kosong lebih cepet eneg, right? Film ini tuh bercerita tentang salah satu stasiun TV yang mau meliput secara langsung (reality show gitu) aksi pemadam kebakaran di malam hari. Tidak disangka ternyata misi yang mereka ikuti itu adalah misi yang sangat menyeramkan. Para anggota pemadam kebakaran mendapat panggilan ke sebuah apartement yang katanya mendengar suara teriakan seorang wanita penghuninya. Ternyata wanita itu mengidap penyakit misterius yang belakangan diketahui adalah rabies yang menyerang manusia, sangat cepat menular ke satu sama lain! Mereka yang terinfeksi menjadi ganas! Sialnya lagi, mereka tidak dapat keluar dari apartemen tersebut karena pemerintah memerintahkan untuk menyegel apartemen tersebut. Perbuatan tersebut dimaksudkan agar virus rabies tidak menyebar luas. Jadilah selama film hanya syuting di apartement saja! Kenapa saya bisa mabok nonton film ini?????? Karena ceritanya tuh dibikin seperti kita lagi nonton acara reality show, jadi kameranya sepanjang film asik goyang kiri kanan atas bawah. . . Pusing banget dah! Ga tau yaa menurut kamu" yang udah nonton gimana, tapi ini murni pendapat saya pribadi.. Hehe.. Btw, banyak temen saya yang bilang bagusan versi aslinya, Rec, jauuuuhhhhh banget! Saya sendiri belum nonton Rec sih, jadi ga tau deh..

A Dog's Purpose

Review Film: Belajar Kesetiaan Hewan Lewat Film A Dog’s Purpose

A Dog's Purpose (Foto: Tribute)
Diadaptasi dari novel best-seller karya W. Bruce Cameron dengan judul yang sama, A Dog’s Purpose adalah film karya Lasse Hallström yang dibintangi oleh Josh Gad, Dennis Quaid, K.J. Apa, Bryce Gheisar, Peggy Lipton, dan Britt Robertson. Digarap oleh rumah produksi Amblin Entertainment, Walden Media, Reliance Entertainment, yang berasosiasi dengan Universal Pictures.
Ethan dan ibunya bermain bersama Bailey (Foto: Collider)
Ethan dan ibunya bermain bersama Bailey (Foto: Collider)
Bersetting di tahun 1962 saat peristiwa krisis rudal Kuba, A Dog’s Purpose memulai ceritanya dengan seekor anjing bernama Bailey (Josh Gad) yang diselamatkan oleh Ethan kecil (Bryce Gheisar) dan ibunya (Juliet Rylance) dari mobil penculik anjing. Bailey akhirnya tinggal bersama keluarga Ethan dan semakin dekat dengan Ethan. Kalung Bailey pun disematkan oleh Ethan sebagai penanda penting di film ini. Masalah mulai muncul ketika ayah Ethan yang seorang pemabuk (Luke Kirby) mengundang bosnya untuk makan malam di rumah.
Ethan remaja bersama Bailey dalam film A Dog's Purpose (Foto: WSJ)
Ethan remaja bersama Bailey dalam film A Dog’s Purpose (Foto: WSJ)
Waktu berlalu sampai Ethan beranjak remaja dan jatuh cinta pada Hannah (Britt Robertson) berkat bantuan Bailey. Kemesraan pasangan ini terus berlanjut sampai peristiwa mengenaskan yang menimpa Ethan membuat hubungan mereka berakhir. Bailey yang sudah semakin tua juga mulai sakit-sakitan dan akhirnya menemui ajal. Namun, cerita belum berakhir sampai di situ.
John Ortiz dalam sebuah adegan film A Dog's Purpose. (Foto: Joe Lederer/Universal Studios via AP)
John Ortiz dalam sebuah adegan film A Dog’s Purpose. (Foto: Joe Lederer/Universal Studios via AP)
Bailey kemudian bereinkarnasi menjadi anjing pelacak German Shepherd bernama Ellie yang membantu Carlos (John Ortiz) di Chicago Police Department. Nahas, nyawanya kembali direnggut saat mencoba menyelamatkan Carlos ketika melawan seorang penjahat. Jiwa Bailey bereinkarnasi kembali menjadi anjing lucu jenis Corgi yang diadopsi oleh seorang mahasiswi (Kerby Howell-Baptiste).
Singkat cerita, Bailey akhirnya masuk pada fase reinkarnasi terakhir ketika ia menjadi anjing jenis Australian Shepherd yang dicampakkan. Bailey kabur mengikuti indera penciumannya sampai ke ladang gandum yang sudah familiar dengannya. Di situlah ia kembali bertemu dengan Ethan tua (Dennis Quaid) yang hidup sendiri mengurus ladang.
Dennis Quaid memerankan Ethan tua, bertemu Bailey yang sudah reinkarnasi (Foto: Adogspurposemovie)
Dennis Quaid memerankan Ethan tua, bertemu Bailey yang sudah reinkarnasi (Foto: Adogspurposemovie)
A Dog’s Purpose mengajarkan tentang makna di balik kesetiaan hewan yang dikenal setia terhadap majikannya ini. Kita seolah diajak mengenal lebih dalam tentang apa yang ada di pikiran seekor anjing, khas dengan shot point of view dari tokoh anjing di tiap adegan filmnya. Alur cerita dibuat tidak begitu rumit dengan selalu dipandu voice over Josh Gad yang jenaka.
Lasse Hallström termasuk sutradara yang sudah ahli menangani film dengan anjing sebagai tokoh utama. Terbukti pada film Hachi: A Dog’s Tale yang menuai kesuksesan berkat kepiawaiannya memainkan emosi penonton. Pada film A Dog’s Purpose ia juga berusaha menghadirkan drama komedi yang lebih bervariasi dalam hal visual dan musik yang juga membuat kita terharu.
Terlepas dari kontroversi tentang dugaan kekerasan pada hewan dalam proses pembuatannya, film ini cocok untuk kamu yang termasuk pecinta anjing. Kita akan dibuat gemas melihat tingkah lucu anjing-anjing di film ini.
Yuk kita belajar menyayangi hewan dengan nonton film A Dog’s Purpose di bioskop. Beli tiketnya di sini.

Because of Winn-Dixie

Because of Winn-Dixie (2005)

B+ SDG Original source:
It’s a dark and stormy night.
2005, Walden / 20th Century Fox. Directed by Wayne Wang. Annasophia Robb, Jeff Daniels, Cicely Tyson, Dave Matthews, Eva Marie Saint, Courtney Jines, Nick Price, Luke Benward, Elle Fanning.

Age Appropriateness

Kids & Up

MPAA Rating

PG

Caveat Spectator

Accessible treatment of themes relating to a broken marriage and alcohol abuse.
Suddenly, the dog leaps up on his young mistress’s bed, barking frantically, and wakes her up. Then he races into her father’s room, rousing him as well, drawing them both from their beds before tearing to the other side of their mobile home.
What’s wrong? Does he smell smoke? Gas? Can he hear thieves sneaking around outside?
In almost any other dog movie, yes. But Because of Winn-Dixie isn’t any other dog movie, and Winn-Dixie isn’t any other movie dog. Unlike typical Hollywood canines from Lassie to Old Yeller to Benji, Winn-Dixie is a regular dog, not a super-dog. He doesn’t save lives, fend off attacking animals or humans, or peform perform outstanding if not super-canine feats of intelligence and dexterity.
Turns out, the dog’s just scared of thunderstorms. We don’t know why. Far from a Hollywood super-dog, he’s just another wounded soul — like everyone else in Naomi, Florida, including young India Opal Buloni (newcomer Annasophia Robb) and her father (Jeff Daniels), a struggling Baptist preacher and single dad who always changes the subject whenever Opal asks about her mother.
Faithfully adapted from the popular Newbery Honor novel by Kate DiCamillo, Because of Winn-Dixie is a good family film frequently verging on being an excellent one, and is quite a bit better than the dog-movie clichés suggested by the trailers.
Fans of the book can rest easy: Like Holes, the 2002 breakout hit from education-oriented Walden Media, Because of Winn-Dixie is true to its source material. A few supporting characters have been added and a few plot points changed, but the film, directed by Wayne Wang (Maid in Manhattan), cements Walden’s commitment to producing faithful adaptations of quality children’s literature. (Walden was also responsible for last year’s uneven I Am David — and, of course, this year’s much-anticipated The Lion, The Witch & the Wardrobe.) It’s a shame Walden didn’t beat Disney to the punch on the latter’s recent Tuck Everlasting, which was substantially diminished by a number of departures from the book.
Opal and her father, simply called the Preacher, are newcomers to the not especially welcoming fictional community of Naomi (the film was actually shot in Napoleonville, Louisiana). The Preacher’s new calling is a storefront church with metal folding chairs in which the good people of Naomi sit stolidly, as if daring him to try to inspire them.
Their residence is a mobile home whose owner, with something less than real graciousness, allows them to stay rent-free — at least, until the momentous day that lonely Opal, desperate for a friend, spots a big, shaggy dog wreaking havoc at the local Winn-Dixie supermarket and impulsively claims him as her own, bestowing on him the first name that comes into her head.
Although the film includes enough sporadic beastiary slapstick to keep even the youngest viewers reasonably entertained, Because of Winn-Dixie is really about Opal’s summer of discovery, in which she makes new friends, brings neighbors together, learns the truth about her mother, and grows closer to her father.
Winn-Dixie is involved in all this, of course, but it’s not like he deliberately sets out to engineer a social life for his mistress, much less solve other people’s problems. In fact, the secret of Winn-Dixie’s success is simply the secret that has made dogs so spectacularly successful as companions to human beings for thousands of years: an instinctive but uncanny attentiveness and sensitivity to human behavior and emotions.
Among the locals Opal meets and ultimately brings together are Otis (musician Dave Matthews), a gruff but soulful drifter and ex-con working in a pet shop; Miss Franny (Eva Marie Saint), a high-strung librarian with a stock of curiously bittersweet candies; and Gloria (Cicely Tyson), a reclusive blind woman whom neighborhood boys teasingly allege is a “witch” and who (like Ray Charles’s mother in one of the childhood memory sequences in Ray) has a tree in her back yard from which countless empty liquor bottles dangle on strings.
The film makes a few missteps here. Among the characters it introduces is a slapstick yokel cop who is suspicious of the drifter Otis and suggests that he may have something to do with the fact that the owner of the pet shop, Miss Gertrude, doesn’t seem to be around. This loose plot end is never tied up; we never see Miss Gertrude or learn any more about her.
The unresolved suggestion that Otis may be a malefactor substantially magnifies the problematic nature of Opal frequenting the shop alone, even wheedling herself a job there in order to pay for a collar for Winn-Dixie. Clearly Otis is meant to be a decent guy, but if I were the Preacher there’s no way on earth I’d let my 10-year-old daughter spend hours alone with an unknown drifter ex-con who may or may not be squatting in a pet shop whose owner may or may not be missing.
These issues could easily have been patched up in the third act, when most of the cast comes together for an impromptu party at Gloria’s house. All the film had to do was bring Miss Gertrude to the party, along with Otis and Miss Franny. Better yet, why not invite the cop too? Because of Winn-Dixie wears on its warm, fuzzy humanism on its sleeve, nowhere more so than in the party invite list, but it falls short of extending that fuzzy humanism to bonehead cops (a second example of which figures significantly in one character’s back story).
But the story has enough heart to carry it past these missteps. Among the film’s strongest moments are a number of strikingly effective imagination / childhood memory / fantasy sequences that put to shame similar fantasy sequences in another current film, the (in my opinion) over-praised Best Picture nominee Finding Neverland.
The comparison is heightened by the fact that in both films the first fantasy / imagination sequence involves a bear. The bear footage in Finding Neverland for me lacks the necessary playfulness and whimsy, being clumsily intercut with Johnny Depp and his English sheepdog. By contrast, the effect in Because of Winn-Dixie is more pleasing. There’s also a terrifically imaginative fantasy shot involving a Volkswagen Beetle that beats hollow anything in Finding Neverland. And dim, grainy footage of Opal’s mother, barely glimpsed playing peekaboo behind a tree, is one of the most evocative visualizations of the elusiveness of childhood memory that I’ve ever seen.
Following the book, Because of Winn-Dixie addresses some tough themes, including broken families and alcoholism, in a way that is accessible to children and never inappropriate even for the youngest. Although the film is seldom preachy, its themes of community and healing are framed in a Christian cultural milieu defined above all by the Preacher, a rare sympathetic clergyman who prays and preaches but is above all an ordinary and quite fallible guy.
Like Miss Franny’s semi-magical candies, Because of Winn-Dixie is both sweet and sad, a blend that does the heart good.