Wednesday, December 11, 2019

The Fault in Our Stars

[Review] The Fault in Our Stars (2014)

Saya tak pernah lupa tanggal hari pertama sebuah film rilis di layar lebar. Berbekal ingatan yang cukup tajam itulah saya seringkali mengesampingkan kegiatan-kegiatan lain yang tak berhubungan dengan menonton film. Hari ini adalah hari pertama The Fault in Our Stars tayang, tentu setelah menyelesaikan kewajiban saya di kampus, saya siap menuju bioskop untuk menyantap film yang bergenre romantis tersebut. Ketika itu langit terlihat begitu gelap, menandakan betul bahwa tinggal menunggu waktu untuk semesta menyirami Bumi. Masa bodoh pikir saya, toh nanti di dalam teater pun juga tak terasa jika nanti akan turun hujan badai sekalipun.
Bahkan sampai film ini rilis, I didn't know anything about John Green. Penulis asal Amerika tersebut telah menelurkan beberapa karyanya dalam bentuk novel young-adult. Sudah barang tentu novel keenamnya yakni The Fault in Our Stars menjadi incaran studio raksasa Hollywood. Just like usual, kali ini sang sineas yang baru memulai debut layar lebarnya pada tahun 2012 lalu lewat Stuck in Love, Josh Boone memegang kendali penuh untuk menerjemahkan setiap halaman bahasa tulis dalam novel yang laris tak hanya dari segi penjualan namun juga dari pujian para pembacanya ini ke dalam bahasa visual. Pada umumnya, sebuah novel best-seller sudah pasti mempunyai fans-nya sendiri, mengingat hal tersebut cukup fatal sehingga bisa menjadi perhatian bagi pembuat film untuk tidak mengecewakan kalangan tersebut. Belakangan juga terlihat jelas bahwa film-film adaptasi dari ranah young-adult cukup menjual dan mampu menggandeng fans baru yang dalam hal ini belum membaca kisah aslinya yang dibukukan, but.. The Fault in Our Stars was still so adorable with simple premise.. tidak seperti koleganya dengan genre serupa yang menggantungkan pesonanya melalui mahkluk inhuman, sci-fi, fantasi, hingga dunia distopia. 

Yeah, premis yang disajikan dalam The Fault in Our Stars memang masih seputar cinta. Klise? Of course not. Ketika berbicara mengenai cinta, I'm pretty sure every people in this world pasti mempunyai makna sendiri mengenai hal penuh magis tersebut. Pun dengan film adaptasi karya John Green yang terbit tahun 2012 ini, melaluinya cinta dituturkan melalui sosok perempuan remaja cantik bernama Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley). Di usianya yang masih belia, putri semata mayang dari pasangan Michael Lancaster (Sam Trammel) dan Frannie Lancaster (Laura Dern) tersebut mengidap kanker di bagian paru-paru sehingga membuatnya harus selalu memakai alat bantu pernapasan. Tak lengkap dalam sebuah hubungan tanpa kehadiran sosok Mr. Right, untuk itulah John Green menciptakan karakter Augustus Waters (Ansel Elgort) yang ternyata mengidap tumor yang sampai sekarang masih mengerogoti tubuhnya, malangnya, dia juga kehilangan salah satu kakinya sehingga terpaksa memakai kaki palsu. I know I know, they're like impossible relationship. Tapi tentu saja jika menyangkut perkara cinta. Apapun itu, logika tak berlaku.


Sebagai orang yang terlalu percaya diri menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Cah Cinta, film-film bergenre romantis ini ibarat taman belakang rumah dimana saya seringkali bermain di area itu sampai-sampai saya hafal betul setiap elemen yang ada di dalamnya. Karena alasan itulah bagi saya sulit untuk tak jatuh hati dengan The Fault in Our Stars. Film yang karakter perempuannya mengingatkan saya kepada Jamie Sullivan di film A Walk to Remember ini memulainya dengan perlahan, rapi, dan penuh sarat emosi sehingga setiap fase dari perkenalan karakternya bisa melebur begitu mudah dengan penonton. Benar saja, menit demi menit berlalu penonton seakan dengan senang hati membukakan alam bawah sadarnya untuk dihipnotis jalinan cerita. To be honest, sedikit berlebihan jika harus menyebutkan bahwa The Fault in our Stars adalah film cengeng, tak ada sedikitpun elemen dramanya seperti dibuat-buat atau dipaksakan, semuanya teramu sempurna dalam suatu wadah yang dihiasi pemanis berupa iringan lagu yang mudah akrab di telinga terlebih dari Ed Sheeran (All of The Stars) dan Kodaline (All I Want).
Rasa-rasanya pujian paling tinggi patut disematkan pada dua karakter utama, Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Sebuah chemistry layaknya 'ruh' bagi mereka, dan tak dipungkiri mereka berhasil saling menjaga 'ruh' tersebut. Artis yang digadang-gadang akan berperan sebagai Mary Jane dalam sekuel kedua The Amazing Spiderman ini dengan segala pesona luar biasanya mampu memperlihatkan sebagai sosok gadis penderita kanker yang tak butuh belas kasihan. Penonton dengan tulus merasa simpati, empati, dan kagum dalam waktu yang bersamaan. Bahkan Ansel Elgort yang namanya belom dikenal luas sejak kemunculannya sebagai karakter Caleb di Divergent juga mampu bersimbiosis mutualisme dengan Shailene Woodley. Mereka saling mengisi kekosongan sehingga tidak ada ruang-ruang kebosanan. Menonton mereka seperti ada perasaan sesak; sesak karena mereka hanyalah karakter fiktif, sesak karena mereka menunjukkan hal yang sulit ditunjukkan oleh orang normal, dan sesak karena hal-hal lain yang mungkin bersifat personal bagi penonton. Sekali lagi, dengan kejeniusan John Green melalui mereka cinta disampaikan dengan begitu indah, begitu pahit lewat dialog-dialog yang menyayat hati.
Hingga credit title bergulir, saya masih terdiam di kursi teater. Sejenak, otak memutar ulang pada sebuah adegan The Fault in Our Stars bagaimana pada menit-menit ketika konflik memuncak, dialog-dialog nan manis itu disenandungkan dan memperdengarkan kepada saya mengenai perasaan paling jujur seorang yang sedang jatuh hati. Tersentak saya bangkit dari lamunan dan melihat saya tinggal seorang diri dalam teater. Ah benar saja, di luar ternyata masih hujan, tidak terlalu deras memang tapi cukup bikin kuyup. Entah, tiba-tiba saya memutuskan untuk menerjang hujan, yah jika nanti tiba-tiba saya sesenggukan mengingat jalinan kisah tadi, orang-orang yang bertanya saya bisa berkilah, "Ah enggak ini cuman air hujan kok."

The Secret Life of Walter Mitty

[Review] The Secret Life of Walter Mitty (2013)

"To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer,
to find each other, and to feel. That is the purpose of life." - Walter Mitty
Berkhayal mungkin adalah pekerjaan yang paling menyenangkan bagi banyak orang. Di dalam khayalan, setiap orang bebas mempunyai atau melakukan hal-hal di luar yang bisa terjadi dunia nyata. Ekspresi yang tak terbatas sangat mungkin berada dalam dunia khayalan. Setidaknya itulah karakter seorang Walter Mitty. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama yang dipublikasikan pada tahun 1939 oleh James Thurber ─seorang kartunis, penulis, dan jurnalis sebuah majalah terkenal waktu itu. Tak usah khawatir melihat tahun 1939-nya (walaupun saya sendiri juga belom membaca cerita pendek aslinya), ditangan sutradara yang juga sekaligus menjadi pemeran utamanya, Ben Stiller (Night at The Museum dwilogy, Tropic Thunder) merubah The Secret Life of Walter Mitty menjadi sebuah road movie yang bersetting modern dan sangat bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai kalangan. Mungkin ini sebuah film yang ditujukan bagi pegawai kantoran dengan pekerjaan membosankannya yang ingin mencari arti hidup.

Underworld: Rise of The Lycans

Underworld: Rise of The Lycans (2009)

Alih-alih melanjutkan cerita dari Underworld: Evolution, pembuat film lebih memilih untuk membawa penonton kembali ke berabad-abad yang lalu dari dunia Underworld. Menceritakan tentang pemimpin bangsa Lycan yang pertama yaitu Lucian, sekalipun dia merupakan Lycan, dia diizinkan untuk mengabdi kepada keluarga kerajaan Vampir yang dipimpin oleh Viktor sebagai budak. Diam-diam Lucian menjalin cinta dengan Sonja, putri tunggal Viktor. Selang beberapa lama pun hubungan mereka terbongkar, Viktor pun murka karena sebenarnya hubungan Lucian dan Sonja adalah terlarang. Atas nama hukum Vampir, Viktor tega untuk menghukum mati putri tunggalnya dan menyebabkan Lucian membalas dendam dengan memanggil pasukan Lycan untuk menyerang kerajaan. Kali ini kursi sutradara diserahkan kepada Patrick Tatopoulos, yang mana justru memiliki ajalan cerita yang menyenangkan. Underworld: Rise of The Lycans adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dua film sebelumnya. Masih bernuansa gelap dan menimbulkan kesan dingin, penonton diajak ke awal mula perang abadi antara dua monster legenda. Hanya saja adegan pertarungan yang terlihat biasa saja menyebabkan kebosanan di pertengahan film. Tanpa Kate Beckinsale yang fenomenal itu, Rhona Mitra yang berperan sebagai Sonja tetap belum sanggup mengisi kekosongan sebagai sosok Vampir yang anggun. Durasi yang lebih sebentar dari dua film sebelumnya membuat jalan cerita Underworld: Rise of The Lycans lebih padat dan membuatnya menjadi sekedar hiburan tanpa berbelit-belit.

Underworld: Evolution

Underworld: Evolution (2006)

Marcus dan Viktor adalah tetua dari bangsa Vampir yang sudah lama ditidurkan. Mereka harus menunggu waktu yang tepat untuk dibangkitkan. Viktor yang lebih dulu dibangkitkan di film pertamanya, mengalami nasib yang naas. Karena unsur ketidaksengajaan, Marcus pun bangkit dari tidurnya yang panjang dan mengetahui fakta-fakta bahwa Selene telah membunuh Viktor dan sekarang kabur bersama Michael Corvin yang sudah berubah menjadi monster setengah Vampir setengah Lycans bernama Hybrid. Marcus yang murka pun segera memburu keduanya. Masih disutradarai Len Wiseman dan dengan formula yang sama, Underworld: Evolution hadir untuk melanjutkan kisah dari Underworld. Tentu saja masih dengan nuansa yang kelam. Kali ini berfokus pada kenyataan tentang masa lalu, diperlihatkan cuplikan adegan pembuka tentang masa lalu Marcus dan Victor sebagai jalan penonton untuk memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan dalam film ini. Underworld: Evolution masih dibalut dengan aksi penuh darah serta deretan mahkluk-mahkluk baru yang sepertinya akan membuat penonton semakin girang. Lagi-lagi tak ada sesuatu yang spesial untuk adegan aksinya. Dari kekurangan di film pertamanya, kali ini Len Wiseman cukup cerdas untuk memangkas durasinya sehingga lebih cepat dari film pertamanya. Hanya saja masih terkesan dangkal dan datar. Kate Beckinsale terlihat sudah begitu menyatu dengan Selene, tapi sayang sosok Marcus tidak terlihat semengerikan sosoknya. Underworld: Evolution bisa dikatakan semakin menghibur.

Last Christmas

Review 'Last Christmas': Tak Seperti Film Komedi Romantis Biasa

Untitled Image
Poster film Last Christmas (Foto: Universal Pictures)
Play Stop Rewatch, Jakarta – Setiap tahun, momen natal selalu diwarnai dengan rilisnya film-film yang bertema “Christmas Movie”. Tidak terkecuali tahun ini, di mana salah satu dari daftar Christmas Movie 2019 adalah film Last Christmas.
ADVERTISEMENT
Film ini disutradarai oleh Paul Feig, dibintangi oleh Emilia Clarke (Game of Thrones), Henry Golding (Crazy Rich Asians), serta beberapa legenda hidup industri perfilman seperti Michelle Yeoh dan Emma Thompson. Bahkan, Emma Thompson juga mendapat credit sebagai penulis screenplay untuk film ini. Kabarnya, Thompson bahkan sudah memulai penulisan script untuk film ini sejak 2010.
Untitled Image
Kate dan Tom (Foto: Universal Pictures)
Last Christmas menceritakan tentang kehidupan seorang wanita bernama Kate (Clarke) yang bekerja di sebuah toko yang menjual barang-barang bernuansa natal milik Santa (Yeoh). Hidupnya boleh dibilang cukup berantakan hingga akhirnya dia bertemu seorang pria bernama Tom (Golding), yang terlihat sangat dewasa, dan anehnya terasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan Kate.
Sejak itu, sedikit demi sedikit Kate mulai menata hidupnya. Mulai dari berusaha memperbaiki kinerjanya di toko Santa, menjalin kembali hubungannya dengan keluarganya, serta berusaha membantu para tunawisma sebagai sukarelawan di tempat Tom bekerja. Namun, seperti halnya kehidupan nyata, selalu ada konflik yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan Kate harus menghadapinya.
ADVERTISEMENT
Karakter Kate akan mengingatkan kita pada Annie (Kristen Wiig) dari film Bridesmaids (2011) serta Ashbudn (Sandra Bullock) dari film The Heat (2013), yang mana kedua film tersebut juga disutradarai oleh Paul Feig. Ketiga film ini memiliki kesamaan, lead female character-nya memiliki pembawaan yang canggung serta kehidupan pribadi yang kurang mulus. Tampaknya hal ini merupakan salah satu ciri khas Paul Feig.
Untitled Image
Salah satu cuplikan dari film Last Christmas (Foto: Universal Pictures)
Film ini juga menjadi kolaborasi kedua antara Feig dan Henry Golding setelah A Simple Favor (2018). Golding juga menjadi lead male character di film Crazy Rich Asians (2018), film di mana dia pun beradu akting dengan Michelle Yeoh. Sementara bagi Emilia Clarke, film ini merupakan film dengan tema romantis keduanya setelah Me Before You (2016).
ADVERTISEMENT
Last Christmas, seperti halnya Bridesmaids (2011), bukan merupakan komedi romantis biasa. Semua koneksi Kate dengan orang-orang di sekitarnya terasa sangat realistis, mulai dari hubungan dengan bosnya, dengan ibu dan ayahnya, serta saudarinya yang naik-turun. Justru, hubungan antara Kate dengan love interest utamanya, Tom, terasa kurang nyata. Namun pada akhirnya, Last Christmas tetap memberikan kesan heartwarming dan menghibur.
Sentuhan komedi yang quirky ala Paul Feig cukup terasa di film ini. Michelle Yeoh, memesona dan elegan seperti biasanya, namun juga mampu membuat kita tertawa dengan comedy-chop yang cukup kuat. Bahkan, secara mengejutkan, duo polisi wanita yang diperankan oleh Laura Evelyn dan Ingrid Oliver berhasil mencuri perhatian dengan jokes-nya, meskipun hanya tampil dalam durasi yang boleh dibilang sedikit.
ADVERTISEMENT
PSR memberikan nilai 7/10 untuk Last Christmas. Bagi anda yang ingin menonton hiburan yang tidak terlalu berat, Last Christmas sangat direkomendasikan untuk tontonan natal.

Quarantine

REVIEW: QUARANTINE





















"On March 11 2008, the government sealed off an apartment complex in Los Angeles. The residents were never seen again. No details. No witnesses. No evidence. Until now."

Quarantine adalah remake dari film horor Spanyol tahun 2007, berjudul Rec. Tadinya saya ga terlalu tertarik buat nonton film ini, pertama karena covernya ga menarik minat nonton saya, dua karena saya bukan penggila horor atau thriller dan sejenisnya. Hehe.. Tapi semenjak buat blog, saya harus lebih objektif dong dalam nonton film, ga boleh cuma nonton genre favorit saya aja, nanti yang baca malah boseeeennn.. ^^ Well, akhirnya senin kemarin saya nonton Quarantine juga! Sebelumnya saya sempet dapat komentar buruk tentang film ini dari mama saya yang udah nonton duluan, katanya dia sampai mabok nontonnya! Iya, MABOK katanya! Awalnya saya ga ngerti maksudnya apaaaaa, dalam hati saya koq mama saya katrok banget, masa nonton horor dikit sampai mabok gitu. Haha.. Dan ternyataaaaaaaa..saya juga mabok nonton Quarantine! Ga tau apa karena kena sugesti sama kata" mama saya atau emang filmnya yang punya efek bikin orang mabok? Fiuhhh..awalnya sih biasa aja, tapi terakhir" perut saya muaaaaaalllll! Well mungkin pengaruh belum makan juga kali yaa, jd perut kosong lebih cepet eneg, right? Film ini tuh bercerita tentang salah satu stasiun TV yang mau meliput secara langsung (reality show gitu) aksi pemadam kebakaran di malam hari. Tidak disangka ternyata misi yang mereka ikuti itu adalah misi yang sangat menyeramkan. Para anggota pemadam kebakaran mendapat panggilan ke sebuah apartement yang katanya mendengar suara teriakan seorang wanita penghuninya. Ternyata wanita itu mengidap penyakit misterius yang belakangan diketahui adalah rabies yang menyerang manusia, sangat cepat menular ke satu sama lain! Mereka yang terinfeksi menjadi ganas! Sialnya lagi, mereka tidak dapat keluar dari apartemen tersebut karena pemerintah memerintahkan untuk menyegel apartemen tersebut. Perbuatan tersebut dimaksudkan agar virus rabies tidak menyebar luas. Jadilah selama film hanya syuting di apartement saja! Kenapa saya bisa mabok nonton film ini?????? Karena ceritanya tuh dibikin seperti kita lagi nonton acara reality show, jadi kameranya sepanjang film asik goyang kiri kanan atas bawah. . . Pusing banget dah! Ga tau yaa menurut kamu" yang udah nonton gimana, tapi ini murni pendapat saya pribadi.. Hehe.. Btw, banyak temen saya yang bilang bagusan versi aslinya, Rec, jauuuuhhhhh banget! Saya sendiri belum nonton Rec sih, jadi ga tau deh..

A Dog's Purpose

Review Film: Belajar Kesetiaan Hewan Lewat Film A Dog’s Purpose

A Dog's Purpose (Foto: Tribute)
Diadaptasi dari novel best-seller karya W. Bruce Cameron dengan judul yang sama, A Dog’s Purpose adalah film karya Lasse Hallström yang dibintangi oleh Josh Gad, Dennis Quaid, K.J. Apa, Bryce Gheisar, Peggy Lipton, dan Britt Robertson. Digarap oleh rumah produksi Amblin Entertainment, Walden Media, Reliance Entertainment, yang berasosiasi dengan Universal Pictures.
Ethan dan ibunya bermain bersama Bailey (Foto: Collider)
Ethan dan ibunya bermain bersama Bailey (Foto: Collider)
Bersetting di tahun 1962 saat peristiwa krisis rudal Kuba, A Dog’s Purpose memulai ceritanya dengan seekor anjing bernama Bailey (Josh Gad) yang diselamatkan oleh Ethan kecil (Bryce Gheisar) dan ibunya (Juliet Rylance) dari mobil penculik anjing. Bailey akhirnya tinggal bersama keluarga Ethan dan semakin dekat dengan Ethan. Kalung Bailey pun disematkan oleh Ethan sebagai penanda penting di film ini. Masalah mulai muncul ketika ayah Ethan yang seorang pemabuk (Luke Kirby) mengundang bosnya untuk makan malam di rumah.
Ethan remaja bersama Bailey dalam film A Dog's Purpose (Foto: WSJ)
Ethan remaja bersama Bailey dalam film A Dog’s Purpose (Foto: WSJ)
Waktu berlalu sampai Ethan beranjak remaja dan jatuh cinta pada Hannah (Britt Robertson) berkat bantuan Bailey. Kemesraan pasangan ini terus berlanjut sampai peristiwa mengenaskan yang menimpa Ethan membuat hubungan mereka berakhir. Bailey yang sudah semakin tua juga mulai sakit-sakitan dan akhirnya menemui ajal. Namun, cerita belum berakhir sampai di situ.
John Ortiz dalam sebuah adegan film A Dog's Purpose. (Foto: Joe Lederer/Universal Studios via AP)
John Ortiz dalam sebuah adegan film A Dog’s Purpose. (Foto: Joe Lederer/Universal Studios via AP)
Bailey kemudian bereinkarnasi menjadi anjing pelacak German Shepherd bernama Ellie yang membantu Carlos (John Ortiz) di Chicago Police Department. Nahas, nyawanya kembali direnggut saat mencoba menyelamatkan Carlos ketika melawan seorang penjahat. Jiwa Bailey bereinkarnasi kembali menjadi anjing lucu jenis Corgi yang diadopsi oleh seorang mahasiswi (Kerby Howell-Baptiste).
Singkat cerita, Bailey akhirnya masuk pada fase reinkarnasi terakhir ketika ia menjadi anjing jenis Australian Shepherd yang dicampakkan. Bailey kabur mengikuti indera penciumannya sampai ke ladang gandum yang sudah familiar dengannya. Di situlah ia kembali bertemu dengan Ethan tua (Dennis Quaid) yang hidup sendiri mengurus ladang.
Dennis Quaid memerankan Ethan tua, bertemu Bailey yang sudah reinkarnasi (Foto: Adogspurposemovie)
Dennis Quaid memerankan Ethan tua, bertemu Bailey yang sudah reinkarnasi (Foto: Adogspurposemovie)
A Dog’s Purpose mengajarkan tentang makna di balik kesetiaan hewan yang dikenal setia terhadap majikannya ini. Kita seolah diajak mengenal lebih dalam tentang apa yang ada di pikiran seekor anjing, khas dengan shot point of view dari tokoh anjing di tiap adegan filmnya. Alur cerita dibuat tidak begitu rumit dengan selalu dipandu voice over Josh Gad yang jenaka.
Lasse Hallström termasuk sutradara yang sudah ahli menangani film dengan anjing sebagai tokoh utama. Terbukti pada film Hachi: A Dog’s Tale yang menuai kesuksesan berkat kepiawaiannya memainkan emosi penonton. Pada film A Dog’s Purpose ia juga berusaha menghadirkan drama komedi yang lebih bervariasi dalam hal visual dan musik yang juga membuat kita terharu.
Terlepas dari kontroversi tentang dugaan kekerasan pada hewan dalam proses pembuatannya, film ini cocok untuk kamu yang termasuk pecinta anjing. Kita akan dibuat gemas melihat tingkah lucu anjing-anjing di film ini.
Yuk kita belajar menyayangi hewan dengan nonton film A Dog’s Purpose di bioskop. Beli tiketnya di sini.