[Film Tokyo Love Story] Ku Tak Tahu Harus Memulai Dari Mana
Hari
ini hari ulang tahunnya Kanji. Rika sudah menyiapkan surprais
macam-macam. Kanji dan Rika? Penggemar film Tokyo Love Story harusnya
langsung ngeh dong ya ;).
Hokinya Rika kayaknya lagi jelek. Karena
ternyata, di hari yang sama, Satomi menelepon Kanji. Nampak pengin
curhat :D. Kanji memilih menemui Satomi.
Sebel banget deh pas
episode yang ini. Cengeng amat ya ini si Satomi. Gak penting, gak jelas,
kegeeran bakal ditaksir sama semua orang! Suara hati hater banget gak
sih? Hahaha.
Problem is… ini si Mbak Satomi pan sudah sama Mikami,
ya. Ngapain lagi ganggu-ganggu Kanji yang ternyata lagi ditaksir
habis-habisan sama Rika –> ceritanya yang nulis ngefansnya sama Rika
:p.
Habis
maki-maki Satomi, Kanji juga harus dipersalahkan. Mbok ya, empati dikit
toh yaaaa. Dihargai sedikit usaha temannya yang sudah berusaha keras
biar ente tahu kalau dese itu lagi naksir berat :p.
Terus
belakangan ternyata diceritakan juga tentang pertemanan
Satomi-Kanji-Mikami dalam Film Tokyo Love Story, yang ternyata lahir dan
dibesarkan bahkan bersekolah bareng dan menjadi sahabat karib sejak
kecil. Mereka sama-sama merantau ke Tokyo dari sebuah desa kecil yang
sama.
Sejak kecil, Kanji memang sudah memberi perhatian lebih
kepada Satomi. Selalu ingin melindungi semacam itulah. Sampai remaja
juga begitu. Tapi Kanji kan ceritanya pemalu jadi dia diam saja dan
berharap Satomi nanti tahu sendiri.
Too bad, Satomi malah
naksirnya sama Mikami. Sebaliknya dengan Kanji, Mikami ini tipe-tipe
“bad boy” begitulah. Tapi Satomi yang perangainya keibuan dan tidak
terlalu suka banyak bicara malah senengnya sama yang model Mikami ini.
Onde Mande kuadrat lah.
Duh,
begitulah cinta ya, deritanya tiada akhir –> Cu Pat Kay mode on. Cu
Pat Kay? Jangan kebanyakan nonton drama, sekali-sekali nonton Kera Sakti
dong ah :v :v :v.
Then, they grew up. Rame-rame hijrah ke Tokyo.
Tetap bersahabat karib. And here came Rika Akana. Beda dengan Satomi,
Rika ini mulutnya toa’ abis. Ceriwis luar biasa. Dia adalah rekan kerja
Kanji di kantor.
Sampai-sampai tidak sedikit adegan di mana Kanji bete dan bilang ke Rika, “Kamu ini bisa diam, gak, sih?” Hahahaha.
Ealah,
Rika malah naksir sama Kanji yang bawaannya tenang dan irit ngomong.
Enggak tanggung-tanggung, dalam suatu acara kantor, Rika lagi pegang mic
terus teriak kencang-kencang, “I love you, Kanji Nagao!”
Terus
mukanya Kanji di close up, kelihatan banget kalau saat itu ekspresinya
semacam “aku mau mati saja”. Cewek sableng emang! Hahaha.
Terusnya
lagi, Satomi malah jadian dengan Mikami (finally!) tapi ternyata Mikami
masih ‘bandel’. Sibuklah si mbak-nya curhat ke Kanji. Kanji ya
sebenarnya sudah mau move on, apalagi mungkin pusing juga ya dipepetin
terus sama Rika (hihihi). Tapi dia enggak rela juga kalau melihat Satomi
sakit hati.
Intinya, Kanji ikhlas Satomi buat Mikami asalkan Satomi hepi. Macam itulah. Tapi kenyataannya kan enggak.
Nah,
dari situlah, cinta segi lima dimulai. Segi lima? Yoih, karena ada satu
tokoh perempuan lagi yang namanya … duh, lupa. Malas browsing. Pokoknya
si Eneng yang ini naksir sama Mikami gitu lah.
Kepada
RIka, Kanji sebenarnya juga enggak tega. Tapi gimana ya, bingung juga
ngadepin cewek super agresif satu ini kali hehe. Tidak ingin menyakiti
tapi gimana, naksirnya dari dulu sudah sama orang lain :).
Rika lama-lama juga “menyerah”. Semacam … “I can’t make you love me if you won’t…”
Film
Tokyo Love Story ini cukup ribet dan bikin mikir. Karena by the time
you hate Satomi misalnya, dikasih flashback soal masa lalu
Mikami-Satomi-Kanji tadi. Jadi ya, bingung lagi, harus bete apa enggak
nih hehehehe. Tokoh Mikami juga begitu. Kok ya laki-laki gatel-gatel aja
bawaannya, ada juga “why” dan “how”nya sekilas-sekilas. Enggak jadi deh
mau menghujat habis-habisan :D.
Setiap tindakan atau kelakuan
masing-masing karakter tidak dilempar begitu saja. Tapi juga tidak
diurai detil. Dikasihnya sedikit-sedikit biar nontonnya juga seru dan
itu tadi…bikin mikir ^_^. Bahwa yang kita sangka enggak
penting/genit/sok kecakepan ternyata enggak gitu-gitu amat :p.
Konflik
kecil-kecilnya juga banyak. Pokoknya tidak ada tokoh yang sempurna
baiknya –> cantik, baik, lugu, miskin (miskin tapi kullitnya semulus
sutra zzzzzz -_-), selalu ditipu tapi akhirnya “happily ever after”.
Tidak ada juga karakter yang enggak ada angin enggak ada hujan, pokoknya dari lahir kayaknya sudah jahat ajah! :v :v :v.
Demam
AADC beberapa hari terakhir ini malah bikin saya terkenang-kenang sama
dorama Jepang “Tokyo Love Story.” Wah, nasionalismenya rendah ini!
hehehe.
Mungkin, film AADC itu diputar justru saat saya sudah mau
lulus kuliah :D. Dan saat saya SMA, urusan cinta-cintaan belum menjadi
prioritas. Waktu itu benak saya 80% isinya, “Harus lulus di UMPTN! Mau
kuliah di Jakarta! Pengin merantau ke tanah Jawa!”
Ada lah naksir-naksiran pas waktu SMA. Cuma ya, sekadar drama-drama-an ala abege yang memang agak tak terhindarkan ya :p.
Jadinya
ya begitu, Film Tokyo Love Story lebih membekas karena settingnya
sama-sama di usia kerja. Saat yang sama dengan saya dimana drama
percintaan sedang ada di puncaknya hahahahaha.
Kisah dalam Film
Tokyo Love Story juga lebih “membumi” dan logis. Walau tentu saja,
sebagai fans garis keras Teteh Rika Akana, saya berharap endingnya
adalah … Kanji Nagao sujud menyembah di hadapan si Teteh karena menyesal
sudah telat datang ke stasiun kereta api tempat mereka berjanji untuk
bertemu terakhir kalinya sebelum terpisah selama 3 tahun.
Ending
Film Tokyo Love Story ini memang bikin gatal-gatal tapi memang jauh
lebih masuk akal. Tiga tahun kemudian, secara tak sengaja Rika
berpapasan di jalan dengan Kanji yang sedang bersama Satomi.
Rika,
seperti biasa, tetap heboh dan ceria. Kanji lega melihat Rika
biasa-biasa saja, mungkin tadinya sempat takut bakal disambit
hahahahaha. Satomi malah menyarankan mereka berdua reunian dan dia undur
diri.
Kanji sempat enggak enak. Tapi Satomi memberi senyuman manis penuh pengertian.
Rika
akhirnya tahu kalau Kanji sudah menikah dengan Satomi. Mereka mengobrol
biasa dan saling bertanya keadaan. Tidak terlalu diperlihatkan apakah
Rika bete apa gimana. Pokoknya ya biasa saja. Tapi tidak juga
digambarkan mereka seolah baik-baik saja dan pura-pura lupa sama masa
lalu. Kesan grogi ada tapi ya … biasa aja gitu. Ini mbulet gini sih
neranginnya hahahahahaha.
Kanji : Apa kabar, Rika? Balik Tokyo lagi?
Rika : Yoih. Ya, gue gini – gini aja. Enggak berubah banyak.
Kanji : Iya sih
Rika : Etapi, ngaku aja, kalau mau jujur, gue cakepan kan ya?
Kanji : (ketawa grogi)
Rika : Ngaku aja lo!
Kanji : Iya deh, iya. Lebih cakepan sekarang.
Rika : Wah, genit lo! Gue bilang Satomi ah… hahahaha (ngakak nenek sihir)
Kanji : Idih
Rika : Biarin, mau gue laporin! Hahahahahha
Rika : Yoih. Ya, gue gini – gini aja. Enggak berubah banyak.
Kanji : Iya sih
Rika : Etapi, ngaku aja, kalau mau jujur, gue cakepan kan ya?
Kanji : (ketawa grogi)
Rika : Ngaku aja lo!
Kanji : Iya deh, iya. Lebih cakepan sekarang.
Rika : Wah, genit lo! Gue bilang Satomi ah… hahahaha (ngakak nenek sihir)
Kanji : Idih
Rika : Biarin, mau gue laporin! Hahahahahha
Mereka
saling berpisah dengan cara berjalan saling membelakangi ke arah yang
berbeda. Klise tapi nontonnnya enak aja gitu. Natural. Sempat
becanda-becanda lagi si Rika kayak dulu-dulu. Sifat sablengnya ini yang
bikin banyak yang ngefans kali ya sama karakter cewek grabak grubuk ini
:p. Kanji juga ketawa-ketawa. Sama sekali tidak diperlihatkan ada
tanda-tanda CLBK.
Rika bahkan menolak memberikan nomor teleponnya
–> “Isn’t it better this way? Running into each other in a city like
we did today.”
Scene
terakhirnya adalah, Kanji langsung mencari Satomi dan begitu bertemu
langsung senyum hepi dan jalan lagi berdua sambil nempel-nempel gitu.
Sementara Rika, walau jalannya masih sendirian, tapi tampangnya tertawa
lepas seolah satu beban sudah hilang dari hatinya. Sotoy aje dah yang
nulis! :v :v :v.
Memang harusnya begitu kan, ya. Move on gak move
on, hidup terus berjalan dan tidak perlulah ditunjukkan semua drama
dalam hati ke seluruh penjuru dunia :p.
Untuk penonton macam kita
juga diajak berpikir dan lama-lama jadi terasa sulit untuk sebel sama si
Satomi. Dan jadi mereka-reka ulang, “Ini jadi yang jahat yang mana
nih???”
Semua punya alasan walau tidak harus selalu dibenarkan.
Tapi ya, kalau dirunut lagi satu-satu, ya memangnya siapa gitu “bad guy”
nya? Hehehe.
Kenapa ya kita itu kecenderungannya selalu berusaha
nyari-nyari siapa yang salah. Padahal cuma perlu menggeser pertanyaan
sedikit, “Salahnya DI MANA?” Lebih general. Tidak harus mencari SIAPA
;).
Bisa saja, waktunya yang salah, kondisinya yang tidak
memungkinkan, right one on the wrong time or right time on the wrong
one. Karena konon, karakter orang per orang bukan sesuatu yang statis.
Kondisi dan situasi yang tengah dihadapi merupakan salah satu faktor
utama yang bisa memengaruhi si karakter tadi. Bersyukurlah, jika dalam
perjalanan kita di dunia, kita jarang-jarang berada di “ujung jurang”
atau tidak harus mengalami yang namanya “buah simalakama” :D.
Seharusnya
akan sangat jarang kita boleh menyimpulkan, “Ish, dia memang jahat
tauk! Orangnya memang gitu! Ih amit-amit, enggak pernah deh ketemu orang
sekejam dia.”
Judgemental, judgemental, judgemental ^_^.
Itu
dia. Mencari the whole story biasanya susah. Informasi tidak lengkap
dan hanya sepotong-sepotong. Berat sebelah dan hanya mengupas dari satu
sisi. Kadang juga makan waktu dan memang pada akhirnya seringnya kita
tidak mungkin mendapatkan satu jalan cerita yang utuh.
Nah makanya
jelas kan, seringnya kita sulit mengetahui sesuatu secara komplit,
sistematis dan terstruktur (eh, ini pasangan katanya salah deh kayaknya
hahahahaha). Maka dalam banyak hal pula, kita harusnya LEBIH SERING
untuk tidak menuduh dan menghakimi ^_^.
We don’t judge others for
often we don’t know the whole story ;). Jangan kebanyakan nonton
sinetron gak jelas lah :p. Kalau pun (ngakunya) enggak pernah nonton,
stop thinking others like the ones you refuse to watch on TV lah ;).
Salam
damai dari fangirl garis kerasnya Teteh Rika Akana ^_^. Catat ya,
sebelum ada Jokowi, saya sudah sering mengemban amanat sebagai fans
garis keras! :v :v :v.
Pertanyaan penting dari tulisan yang tidak
penting-penting amat ini :p –> kira-kira relevansi judul sama isi
tulisan apa yaaaaaa? ;). Ini ending dari Film Tokyo Love Story nya :
No comments:
Post a Comment