[Resensi Film] Menjadi Guru Yang Gelisah
Salah satu film yang cukup menyentuh nurani saya adalah The Emperor’s Club, garapan Micahel Hoffman (2002). Film ini berkisah tentang militansi seorang guru di sebuah sekolah berasrama (boarding school)
khusus lelaki Saint Benedict, di Amerika, pada 1970-an. Kevin Kline
memerankan William Hundert, seorang pendidik yang militan dan sangat
berintegritas.
Hundert selalu
konsern pada masalah karakter anak didik. Ia merasa gagal sebagai
pendidik jika ada satu saja muridnya yang masih berperangai buruk. Bagi
Hundert, keberhasilan sejati seorang pendidik adalah terbentuknya
karakter moral anak didiknya yang kuat. Melalui materi yang jadi
sepesialisasinya: kebajikan Yunani dan politik Romawi, Hundert ajak
siswa-siswanya mengkaji, merenungi, untuk kemudian menghampirkan mereka
pada kesadaran filosofis dan moral. Dengan begitu, ia berharap,
anak-anak didiknya kelak tidak hanya memiliki kemampuan kognetifyang
brilian, tetapi juga karakter moral yang luhur.
Dengan
bekal kemampuan kognetif yang luas serta karakter yang baik itu,
Hundert berharap kelak anak-anak didiknya menjadi manusia-manusia yang
bukan hanya mencapai kesuksesan-kesuksesan besar dalam hidup, tetapi
lebih dari itu memberi kontribusi yang signifikan bagi masyarakat, bukan
malah menjadi sampah masyarakat. Kepada semua anak didik barunya,
Hundert selalu meminta mereka membaca sebuah kutipan yang tertulis di
selempeng logam antik yang terpampang di atas pintu masuk kelas di sisi
dalam. Kutipan itu bunyinya: “I am Shutruk Nahhunte, king of Anshand
and Sussa, soroveign of the land of Elam. I destroyed Sippar, took the
stele of Niran-Sin, and brought it back to Elam, where I erected it as
an offering to my God” (Shutruk Nahhunte, 1158 BC)
“Menghancurkan
Sippar?” Tanya Hundert kepada murid-muridnya. “Tetapi, tunggu dulu.
Kenapa pencapaian besar Shutruk itu tidak termaktub dalam buku sejarah
mana pun? Kenapa? Karena, ambisi dan pencapaian besar, namun tanpa
kontribusi apa pun, menjadi tak bermakna apa-apa. Jadi, anak-anakku,
sekarang yang jadi pertanyaan: apa kontribusi yang akan kalian berikan
kepada sejarah? Bagaimana sejarah akan mengingat kalian?”
Hundert
berharap semua anak didiknya akan mengingat kutipan itu, dan
menjadikannya sebagai inspirasi tentang pentingnya memiliki hidup yang
bermakna, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi terutama bagi orang
lain. Sayangnya pesan ini tidak ditangkap oleh seorang murid bengal
bernama Bell, anak seorang senator kondang. Ia kerap bikin onar dan
mengabaikan pelajaran. Kelakuan anak ini, tentu saja, membuat Hundert
gelisah, dan merasa dirinya gagal sebagai pendidik jika tidak bisa
mengubah karakter Bill.
Ada sebuah
tradisi tahunan bergengsi di Saint Benedict, yakni even penganugerahan
“Mr Julius Caesar” bagi siswa yang paling menguasai hal-ihwal kebajikan
Yunani dan sejarah politik imperium Romawi. Sebelumnya diadakan seleksi
klasikal, dan akan diambil 3 siswa dengan nilai tertinggi untuk maju
dalam forum semacam cerdas cermat, yang disaksikan oleh semua siswa,
guru-guru, dan para orangtua murid. Ajang ini pun menjadi penting bagi
Hundert, karena ia pikir bisa menjadi jalan untuk menyadarkan Bill. Anak
ini jelas tidak masuk nominasi. Tetapi, demi mewujudkan misi luhurnya
mengubah Bill, Hundert mencutat anak lain yang harusnya masuk nominasi
ketiga dalam test akhir (penulisan esai), Blythe, dan menggantinya
dengan Bell.
Hundert tentu
berharap, bahwa ini akan menjadi peluang bagi Bell untuk berubah; ia
akan belajar sebaik-baiknya, sehingga menjadi jawara tahun ini secara
meyakinkan. Tetapi, di luar dugaan, yang terjadi justru sebaliknya. Bell
berlaku curang selama cerdas cermat berlangsung, dengan membawa
contekan yang diselipkan di balik jubah Julius Caesar-nya. Hundert tahu
akan hal itu, lalu melemparkan pertanyaan yang sedikit di luar konteks,
sehingga menjegal Bell untuk jadi juara. Hundert sungguh menyesali
siasat dan trik yang telah dibuatnya untuk menominasikan si bandel Bell,
dan merasa berhutang pada Blythe yang telah dicutatnya dari tiga besar.
Penyesalan
itu masih tetap menghantui pikiran Hundert cukup lama, sampai 25 tahun
kemudian, ketika ia menerima undangan reuni akbar yang diadakan oleh
alumni era 1970-an itu. Semua alumni yang hadir sudah menjadi
orang-orang penting di Amerika. Sponsor utamanya adalah Bell, si bandel
yang kaya raya itu, yang tetap belum berubah wataknya. Bell malah
menjadikan ajang itu untuk pencitraan politik di hadapan kawan-kawannya,
guna mendapatkan dukungan maju sebagai senator seperti ayahnya. Hati
Hundert semakin patah, dan kian remuk andai saja tidak ada kejutan dari
mantan-mantan muridnya yang lain. Mereka bersembunyi di kamar Hundert
dan menyambutnya dengan antusias ketika ia masuk. Mereka semua memakai
jubah dan memanggil Hundert dengan sebutan “Caesar”, memberi
cinderamata, bersulang, lalu satu demi satu menyampaikan apresiasi dan
kebanggaannya pernah menjadi murid-murid Hundert. Mereka akan mengenang
jasa-jasa sang guru hebat itu selamanya.
***
Ada
dua adegan dalam film ini yang bagi saya sangat mengesankan. Pertama
adalah ketika Hundert bertemu empat mata dengan Blythe di even reuni
itu, lalu secara terus terang mengaku berhutang kepada mantan muridnya
tersebut karena telah mencutatnya dari ranking 3, dan malah menggantinya
dengan Bell, hanya demi sebuah misi yang pada akhirnya toh
gagal. Di luar dugaan, Blythe malah menjawab bahwa tidak ada hutang apa
pun yang harus dibayar. Sebaliknya, Blythe merasa justru pelajaran dan
bimbingan Hundert selama di Saint Benedict dulu itulah yang telah
mengantarkannya pada pencapaian-pencapaian besar dalam hidupnya selama
ini, dan karena itu ia malah berhutang banyak kepada sang guru.
Kedua adalah di ending
cerita, ketika Hundert kembali mengajar di Saint Benedict setelah
sekian lama mengundurkan diri. Ia menanyai murid-muridnya satu demi
satu, dan lalu memperkenalkan dirinya sendiri. Ada seorang murid yang
terlambat datang, meminta maaf atas keterlambatannya dan mengenalkan
diri. Ia tidak lain adalah anak dari mantan murid yang dulu ia pernah
menzaliminya, Martin Blythe.
Bertolak
dari dua adegan itu pula saya menjumput sebuah poin penting, bahwa guru
yang baik itu selalu gelisah. Gelisah kenapa? Gelisah akan setiap
kondisi anak-anak didiknya, ketika dirasa bermasalah. Ketika ada satu
saja anak didik yang mengabaikan pelajaran, tertinggal pelajaran,
berperangai buruk, berkarakter kurang baik, seorang pendidik sejati akan
gundah dan prihatin, lalu ia coba merenung, berpikir, dan berusaha
mencari cara bagaimana mengatasinya, mengubah nasib sang murid itu agar
menjadi baik. Cara yang kemudian dipilih mungkin saja baik, tetapi bisa
pula, amarga kahanan, kurang tepat (misalnya: ada yang harus
dikorbankan), meskipun tetap saja bermuara pada satu tujuan mulia dan
asa, yakni agar semua anak didiknya sukses dalam belajar serta
berkepribadian baik.
Hasil dari
jalan yang ditempuh pun belum tentu sesuai harapan. Sebab, kita mungkin
bisa berusaha dengan aneka cara (dan trik) demi sebuah tujuan.Tetapi,
pada akhirnya takdirlah yang akan menentukan jalannya. Dalam kasus
Hundert di atas kita belajar bahwa kita hanya bisa berusaha, sedangkan
hasil akhirnya Tuhan yang menentukan. Hundert menzalimi seorang muridnya
demi kebaikan muridnya yang lain; ia mendepak Blythe dari tiga besar,
demi menempatkan Bell, dengan harapan ia akan berubah karakternya. Apa
yang terjadi? Murid yang digadang-gadang kebaikannya itu (Bell) justru
mengecewakannya, melukai hatinya, dan sebaliknya, murid yang ia zalimi
itu (Blythe) malah membalut luka sang guru, memberikan penghargaan dan
penghormatan yang setinggi-tingginya.
Demikianlah,
seorang guru yang berkomitmen dan punya integritas saja bisa (merasa)
gagal sebagai pendidik. Seorang guru yang telah menempuh segala cara
untuk mendidik siswanya saja tidak mendapat jaminan bahwa caranya itu
akan berhasil, anak didiknya akan berubah baik seperti harapannya. Maka,
bagaimana dengan guru yang abai terhadap kondisi anak-anak didiknya?
Bagaimana guru yang mengajar hanya sekadar memenuhi prosedur syarat dan
kelengkapan administratif agar bisa mendapat gaji dan tunjangan profesi?
Bagaimana guru yang hanya menyampaikan materi sesuai bahan ajar saja
tanpa ada inovasi, kreasi, dan pengembangan metode pembelajaran?
Bagaimana guru yang hanya menyampaikan materi, tetapi abai terhadap soal
kepribadian dan karakter anak-anak didiknya? Bagaimana guru yang hanya
sekadar mengajar, tetapi tidak mendidik; yang sekadar menyampaikan
materi tetapi tidak mengubah pola sikap dan pola pikir?
Wal
akhir, pesan penting dari film ini begitu menghujam, bahwa seorang guru
yang tidak hanya membekali anak-anak didiknya kemampuan kognetif, namun
juga bekal bangunan kepribadian dan karakter moral yang kuat, kelak
akan mendapati anak-anak didiknya itu tidak hanya sukses dalam aneka
pencapaian hidup, tetapi juga memberi kontribusi bagi kehidupan. Dan,
sebagai imbal baliknya, sosok guru yang seperti itu akan terkenang abadi
dalam hati sanubari murid-muridnya, sebagai guru yang bukan hanya telah
memberi materi pengetahuan, tetapi juga berkontribusi penting dalam
dinamika sejarah kehidupan mereka. Bukan seperti Shutruk Nahhunte. Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment