HUMMINGBIRD (2013) : ANTARA EGO DAN NURANI
HUMMINGBIRD
2013 / 110 Minutes / Steven Knight / UK / 2.39:1 / R
Jika
Jason Statham memang dianggap sebagai simbol bintang film action
generasi 2000, maka ia paling tidak harus memiliki satu film yang
melenceng jauh dari comfort zone-nya. Arnold Schwarzenegger, Van Damme,
Sylvester Stallone, Jet Li, Jackie Chan, Nicholas Cage, sampai Bruce
Willis (apalagi..) sudah sempat mengecap genre lain pada masa-masa
kepopuleran mereka. Beberapa berhasil, sebagian besar tidak berhasil.
Hummingbird mungkin dapat dikatakan sebagai usaha pertama Statham untuk benar-benar memerankan karakter yang jauh berbeda dari yang pernah ia lakoni selama ini. Dan tidak main-main, ia langsung diarahkan oleh seorang Steven knight, penulis kaliber Oscar (Eastern Promises-2007) yang melakukan debut penyutradaraan pertamanya lewat film ini.
Hummingbird mungkin dapat dikatakan sebagai usaha pertama Statham untuk benar-benar memerankan karakter yang jauh berbeda dari yang pernah ia lakoni selama ini. Dan tidak main-main, ia langsung diarahkan oleh seorang Steven knight, penulis kaliber Oscar (Eastern Promises-2007) yang melakukan debut penyutradaraan pertamanya lewat film ini.
Akan tetapi, gelar ‘Oscar nominated’, in my opinion, tidak
serta-merta dapat dijadikan sebagai jaminan kualitas sebuah film.
Taylor Hackford, seorang sineas pemenang Oscar yang telah mengantarkan
Jammie Foxx meraih Oscar lewat film Ray, pernah mencoba untuk membawa
Statham ke level yang lebih tinggi lewat film Parker-nya yang baru saja
dirilis bulan Januari lalu. Directingnya memang cukup renyah,
namun sayang, ia masih terjebak di formula klasik Statham, lengkap
dengan segala kebobrokan plot yang dituliskan di setiap halaman
naskahnya. Bahkan teman-teman saya pribadi masih banyak yang belum
percaya kalau Parker dikomandani oleh sineas yang pernah naik ke
panggung menerima piala Oscar.
Lantas,
apakah kita perlu untuk bersikap pesimis terhadap hasil kerja Steven
Knight, bahwa tidak akan ada sineas yang dapat mengubah sosok Jason
Statham? Let’s find out.
Yang Berubah dan yang Tidak Berubah.
Joey Jones (Jason Statham) adalah seorang mantan tentara special force
yang hidup menggelandang di gang-gang London yang suram bersama dengan
Isabel dan seorang biarawati, Christina (Agata Buzek) yang selalu
memberinya makan malam, serta botol alkohol yang senantiasa melekat di
bibirnya guna menghapus memori-memori kelamnya saat perang dulu.
Namun
suatu ketika, saat berada di tengah kejaran para “penagih hutang” kelas
teri, ia tanpa sengaja terdampar di sebuah apartemen mewah yang tengah
ditinggal oleh pemiliknya. Joey lantas memutuskan untuk memulai hidup
baru karena ia menganggap bahwa semua ini bukan kebetulan saja,
melainkan sebuah kesempatan kedua dari Tuhan. Ia lantas membangun
“karir”nya dengan bergabung ke dalam grup mafia China sekaligus mencari
jati dirinya.
Ringkasan cerita di atas memang terdengar Jason Statham banget sampai
mungkin anda dan para pembeli tiket film ini sekalipun tidak akan
percaya kalau Hummingbird adalah sebuah film drama dengan kadar adegan
aksi sebesar 5%. Ah tak perlu khawatir karena tim marketing dan pihak
produser sendiri pun tampak belum siap untuk mempublikasikan film
terbaru Jason Statham ini sebagai film drama. Dan apabila kalian sempat
melirik trailernya, kalian pasti mengerti apa yang saya maksud tadi. Tim
marketing film ini telah mempresentasikan proyeknya tersebut sebagai the other Jason Statham movie,
menipu masyarakat yang dengan antusias segera menerimanya sebagai film
action yang asik, dan sebagian besar para pecinta film pun lagi-lagi
dibuat mendesah bosan. Statham lagi! Statham lagi!
Trik
marketing ini terbilang "senjata makan tuan", sama seperti halnya
film-film Statham terdahulu. Mereka tidak pernah berani mengutarakan
sisi spesial dari film tersebut dan lebih memilih untuk menjual hal-hal
yang sudah familiar dengan harapan agar masyarakat lebih antusias
menyaksikan film tersebut. Sebagian memang berhasil dibujuk (terutama
para fans dan masyarakat Indonesia--you know why) tetapi sebagian
lainnya memilih untuk tidak menghamburkan uang-waktu mereka dengan
hal-hal yang sudah familiar seperti ini (lihat saja penghasilan box
office film-film Statham).
Di
sisi lain, menukar porsi drama dengan porsi action juga terdengar tabu
dan fatal, terlebih kalau aktor utamanya sudah identik dengan film aksi
laga. Keputusan seperti ini memang sangat berpotensi untuk menimbulkan lose-lose situation
dalam dunia bisnis jual beli tiket, tetapi untungnya, pertaruhan besar
Steven Knight ini sukses membuahkan hasil. Segala hal yang dijejalkan
Knight dalam lingkup dramanya justru berakhir lebih memikat dibanding
adegan aksinya.
Mengenal Wajah Baru Statham.
Petualangan
di dunia abu-abu--kisah di mana tidak ada karakter yang berada di kubu
yang 100% jahat dan kubu yang 100% baik--bukan hal yang baru lagi
memang. Tetapi sama seperti halnya cerita
menyelamatkan-anak-yang-diculik-oleh-penjahat, premise seperti ini
tren-nya tetap akan berlangsung sepanjang masa dan akan selalu menarik
untuk disimak apabila penggarapannya dilakukan dengan bumbu kreatifitas
yang pas.
Tetapi
Hummingbird versi Steven Knight ini sama sekali tidak berusaha untuk
meretas wilayah baru dalam formula klasik kisah film studi-karakter. Ia
masih terdengar cliche dan predictable, tetapi di sisi
lain, terasa renyah dan rapi ketika disimak. Seperti biasa, misi
film-film seperti ini adalah mengajak para penontonnya untuk mengenal
karakter yang ada sedalam mungkin hingga akhirnya berhasil menghubungkan
mereka dengan konteks narasi serta perubahan karakter selama perguliran
durasinya.
Steven
Knight berhasil menuntaskan sebagian misi tersebut dengan baik. Jarak
antara penonton dengan rasa bosan berhasil dijaga agar tetap renggang
berkat perkembangan karakter-karakternya yang menarik dan thought-provoking dari awal sampai akhir film. Tetapi di misi lainnya, Steven tidak begitu berhasil menggenjot tensi film ini. Narasi olahannya cenderung datar dan under-developed. Terlalu banyak karakter dan potensi yang dibuang percuma. Tema gangster, twist clue,
dan dunia gelapnya juga sekedar disentil sesaat, meninggalkan harapan
kosong kepada para penontonnya yang berharap akan terjadi sesuatu di
bagian tersebut tetapi tidak pernah terjadi. Alhasil, tingkat
keseimbangan antara drama dan cerita menjadi berat sebelah hingga mau
tidak mau harus berdampak pada pacing film yang dapat dikatakan lambat tanpa gejolak yang asyik.
Di
departemen akting, Jason Statham menunjukkan kebolehannya sebagai aktor
dalam memerankan Joey Jones, seorang pria keras dan kasar tetapi
memiliki hati malaikat di dalamnya. Masih basic memang, tetapi tidak buruk--di beberapa scene ia malah sempat tampil cukup memukau, tanpa stunt double--dan
yang terpenting, ia akhirnya berusaha untuk mengenakan topeng yang
berbeda; menjawab segala pertanyaan para fans apakah Statham bisa
memerankan karakter yang di luar comfort zone-nya. Dan itu patut
diapresiasi lebih.
Dan ntah apakah saya saja yang menyadarinya, karakter Joey di film ini dapat dikatakan sebagai sebuah tribute sekaligus sebagai the next chapter / sequel untuk nyaris semua kehidupan karakter yang pernah Jason Statham perankan. You know, mempertanyakan
hal-hal sepele seputar karakter tersebut seperti apa yang akan terjadi
setelah dia menyelesaikan misi terbesarnya, atau apa yang akan dia
lakukan setelah dia menuntaskan urusan balas dendamnya. Semua pertanyaan
itu sepertinya berujung dalam kisah Joey ini yang masa lalunya
digambarkan persis seperti hampir seluruh karakter yang dilakoni Jason
Statham yang kita kenal selama ini.
Steven
Knight ternyata juga tidak luput untuk mereparasi departemen lawan main
Statham, di mana karakter wanita pendamping di film ini dapat dikatakan
sebagai karakter love interest Statham yang tergali paling baik.
Ia telah mendorong Agata Buzek yang berperan sebagai biarawati
Christina di film ini untuk tidak sekedar berperan sebagai side-kick
wanita pemanis (Agata tidak manis, fyi),
melainkan juga berperan sebagai plot device dan karakter penting untuk
memperkaya pribadi sosok Joey (dan demikian sebaliknya). Namun sayang
sekali, karakter Christina masih terjebak di dalam ranah stereotip
karakter biarawati yang naif dan menjengkelkan.
Overall,
di luar segala kekurangannya itu, film Statham teranyar ini tetaplah
sebuah kejutan manis, di mana film ini sukses menunjukkan sosok Jason
Statham yang sendu di setting bayang-bayang kota London yang kelam.
Hummingbird berhasil menanamkan pemikiran kepada penontonnya bahwa
sebutan “pahlawan super” bukan serta-merta diukur dari seberapa cermat
ia membersihkan sampah masyarakat saja, tetapi juga dinilai dari hati
nurani dan motif dari segala perbuatannya tersebut. Semua itu berhasil
dijabarkan dan dipertanyakan Steven Knight dengan hati-hati dalam
keseluruhan menit film ini tanpa sekalipun meninggalkan kesan menggurui,
sehingga tanpa perlu pikir panjang-lebar lagi, saya rasa Hummingbird is Statham's greatest, most thoughtful film yet.



No comments:
Post a Comment