Review: Abraham Lincoln: Vampire Hunter
Sekedar iseng saja, saya mencari-cari
artikel apakah benar, selain menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16,
Abraham Lincoln juga diam-diam menyembunyikan sebuah rahasia kalau dia
adalah pemburu vampir. Pencarian bodoh saya tersebut tentu saja tidak
menghasilkan apa-apa, jika mesin pencari google bisa berbicara mungkin
akan ada suara “bego lo!” ketika saya menekan tombol search, masih ingat dengan gimbot yang acap kali mengejek pemainnya jika melakukan kesalahan, yah seperti itu kira-kira hahahaha. Well “Abraham
Lincoln: Vampire Hunter” toh memang murni sebuah film fiksi, walau
terkesan punya kemasan ala film biopik, bagian yang menceritakan sang
presiden berkeliaran di malam hari dan membunuh para vampir jelas
hanyalah karangan, sedangkan bagian yang menyorot Lincoln menghapus
perbudakan adalah fakta. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama
karya Seth Grahame-Smith ini, dengan cerdik menyelipkan kisah
petualangan perburuan vampir ala Van Helsing di antara deretan fakta dan
sejarah yang mengelilingi kehidupan Lincoln. Pondasi ide yang kemudian
mencoba mereka-ulang sejarah “semau gw”, saya akui sangat-sangat
menarik. Namun ketika film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov
(Wanted) ini mulai melangkah lebih maju dalam upayanya membangun cerita,
dan bagaimana nantinya sejarah asyik dicampur-adukkan dengan fiksi nyeleneh, saya sudah salah berekspektasi jika “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” memang bakal menarik. Tak ingin berbicara lancang, tapi maaf Pak Presiden, film vampir anda sangatlah bodoh.
“Abraham Lincoln: Vampire Hunter” jelas
adalah sebuah film yang dibuat semata-mata untuk hiburan, saya tahu itu
dan datang ke bioskop pun karena memang butuh tontonan menghibur yang
tak perlu cerita berat. Sayangnya hingga hampir satu jam, Bekmambetov
tampak kebingungan ingin membuat film ini menjadi “sok serius dan
mendalam” tapi serba tanggung, atau gila-gilaan tanpa memikirkan
ceritanya. Sudah bisa ditebak, akhirnya Bekmambetov memilih option
“C”, bikin filmnya menjadi sok keren tapi tidak terlalu gila-gilaan dan
masih ingin sok bercerita. Sayangnya semua sudah terlambat karena tidak
ada cukup waktu, satu jam sudah berlalu dipakai film ini untuk
menceritakan semua yang tidak kita lihat di cuplikan trailer-nya,
oh dan percayalah semuanya benar-benar membosankan. Tentu saja “Abraham
Lincoln: Vampire Hunter” tidak bisa seenaknya memotong porsi cerita
yang sedang sampai pada bagian Lincoln meniti karir sebagai penjaga
toko, kemudian pengacara dan politikus. Pencitraan bahwa film ini masih
punya cerita harus tetap ada, termasuk menyisipkan kisah romansa antara
Lincoln (Benjamin Walker) dan gadis yang kelak akan menjadi istrinya,
Mary Todd (Mary Elizabeth Winstead). Mari jangan terlalu banyak
bercerita, karena sekali lagi waktu untuk memamerkan porsi “sok keren”
Bekmambetov sudah hampir habis, jadi bagian persahabatan, karir dan juga
cinta seperti diburu-buru untuk ditampilkan, yang penting ada di layar
dan cepat-cepat hilang kemudian dilupakan. Lebih baik tidak ada cerita
sama sekali ketimbang harus melihat Lincoln lompat kesana dan kemari,
saya seperti ditinggalkan oleh cepatnya waktu berlalu di film ini, tidak
merasa diajak dalam cerita, saya memilih untuk tidak lagi peduli
bagaimana nasib Lincoln yang justru tampak seperti pemabuk bodoh.
Di awal, Lincoln padahal sudah susah
payah melatih dirinya untuk menjadi seorang yang heroik, bermodalkan
kampak berlapis perak yang siap menebas setiap kepala vampir, kita juga
dibuat simpatik pada Lincoln karena niat balas dendam terhadap pembunuh
ibunya. Semua potensi untuk membuat film ini menjadi menarik musnah
ketika “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” berada pada posisi “tersesat”
karena yah kebingungan seorang Bekmambetov yang saya jelaskan di
paragraf sebelumnya. Ketika Lincoln memilih untuk “menggantungkan”
karirnya sebagai pemburu vampir dan memilih untuk “bertarung” dengan
politik, maka saya juga seperti “digantung” oleh cerita yang tidak jelas
mau dibawa kemana, masih lompat kesana-kemari dan gilanya tiba-tiba
semua karakter yang saya kenal sudah tua, termasuk pak presiden. Sekali
lagi saya “ditinggalkan” dan dibuat merasa “asing” oleh film yang saya
tonton, walaupun diawal tidak terlalu akrab dengan Lincoln, tapi
setidaknya film ini masih baik hati menyediakan waktu untuk “berkenalan”
dengannya. Sampai tiba waktunya untuk buru-buru menyelesaikan
omong-kosong dan membiarkan jurang pemisah antara penonton dan film
berserta karakter-karakternya semakin lebar. Saya tidak lagi tahu apa
yang sedang saya tonton, tidak peduli dan berharap cepat selesai, sang
Pak Presiden yang diceritakan sudah tua pun dipoles seadanya tanpa ada
sepercik karisma yang muncul dari dirinya. Saya hanya melihat orang tua
berjenggot dengan ambisinya untuk berperang melawan orang-orang dari
selatan yang dibantu bala-tentara vampir. Tidak ada kobaran heroik dalam
karakter Lincoln, yang ada hanya gambaran orang tua bodoh bertopi
tukang sulap yang “bertarung” hanya dari balik mejanya, sampai akhirnya
film ini memberikannya peluang emas untuk beraksi lagi dengan kampak
perak. Setelah dikurung dalam cerita yang membosankan, akhirnya saya
dibebaskan oleh banyaknya aksi-aksi menebas kepala vampir (lagi).

Mungkin saya sudah terlalu lelah
mengikuti jejak perjalanan Abraham Lincoln yang menyembunyikan “kampak
saktinya” terlalu lama, dibalik ceritanya yang giat sekali membuat saya
menguap bosan, dangkal dan dipenuhi kebodohan. Setidaknya ketika
Bekmambetov mulai merangsang mata saya untuk terbuka kembali menonton
film yang juga diproduseri oleh Tim Burton ini, ia melakukannya dengan
(sedikit) benar untuk menghadirkan aksi-aksi “sok keren” melempar kampak
dibalut slow-motion. Untuk yang satu ini walaupun ter-Wanted,
saya acungi jempol untuk Bekmambetov karena sudah sukses menunjukkan
taring dari “Abraham Lincoln: Vampire Hunter”, yang sebelumnya “tumpul”
dalam usahanya memberikan cerita yang layak. Sayang (lagi-lagi) memang
aksi-aksi dalam film ini tidak begitu didukung oleh efek-efek tipuan
komputer yang mumpuni, tidak buruk tapi kurang “diasah” untuk bisa
benar-benar menipu mata, masih terlihat murahan. Apa yang tidak bisa
dimaafkan adalah bagaimana film ini menampilkan para vampir yang
terlihat begitu bodoh, dengan polesan make-up digital yang tidak
memberikan efek bahwa mereka makhluk yang mesti ditakuti, ngeselin sudah pasti… yah setidaknya tubuh mereka tidak berkilau-kilau seperti… ah sudahlah. Diramaikan juga oleh para pemain yang
berakting sesuai dengan porsinya tanpa ada satupun yang istimewa,
termasuk Benjamin Walker yang mirip sekali dengan Liam Neeson versi
muda, “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” tampil tidak sesuai yang saya
harapkan, terlalu bodoh untuk diikuti, bisa dibilang juga agak sulit
untuk dinikmati. (Sedikit) menghibur dan sangat mudah dilupakan.
No comments:
Post a Comment