Thursday, October 17, 2019

Monsters Inc

[Review US-Movie] Monsters, Inc (2001): Paradox Dunia Alternatif

Setelah marathon menonton film-filmnya Pixar, ternyata saya baru menyadari bahwa untuk membuat film yang menyamai kualitas Toy Story membutuhkan 6 tahun dan  film ke 4, dan film itu adalah Monster, Inc. Monster, Inc akan mengingatkan kita kenapa Pixar bisa membuat film seperti Toy Story. Ide yang revolusioner, imajinatif, world building, dan emosi yang ada di dalamnya.
open-uri20160811-32147-y3g0mx_45082ccb.jpeg
Monster, Inc bercerita mengenai dunia alternative dimana ada dunia diluar sana yang penghuninya adalah para monster yang ingin mengganggu para anak kecil dimana teriakan anak kecil itu adalah sumber energy mereka. Wow premis yang cukup seram sepertinya untuk ukuran anak-anak. Tapi seram itu hanya untuk yang tidak begitu kenal, seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Begitu pula dalam film ini. Para monster ini, khususnya 2 tokoh utama kita, Mike dan Sulley sepintas memang seram, tapi kalau kalian kenal lebih dekat, mereka berdua sebenarnya malah takut dengan anak manusia dan punya sisi baiknya. Kenapa saya punya kesimpulan seperti itu? Bersyukurlah Boo, si bocah lucu ini tersesat di dunia monster sehinigga melalui Boo saya bisa semakin kenal dengan dunia monster ini.
Lalu apa yang revolusioner dari Monster, Inc. Film-film era 40-90an termasuk animasinya adalah film-film yang penuh agenda membentuk berbagai stereotype yang kemudian membentuk konsep mapan. Pixar yang kemudian lahir di akhir era 90-an punya ide untuk mendobrak segala hal itu. Dan hal itu salah satunya mengenai monster, monster yang selama ini dianggap jahat dan menyeramkan di dobrak oleh Pixar dalam film ini. Uniknya Pixar tidak serta merta membuat karakter monster yang baik hati layaknya Casper. Monster, Inc  tetap memeberi alasan kenapa monster dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan menyeramkan, tapi kemudian saya sebagai penonton dituntun untuk mengenal mereka lebih dalam dan melihat sisi lain dari para monster ini. Kemudian ada Mike dan Sulley, melalui kedua karakter ini Monster, Inc juga mendobrak bahwasannya karakter dengan fisik yang besar tidak dibuat dominan, seram, atau bahkan bodoh, karakter yang biasanya punya template disini malah tampak netral dan punya karakter tersendiri, begitu pula Mike, tidak ada pertukaran peran, tidak ada sifat bertolak belakang, semuanya tampak normal hanya 2 karakter biasanya yang punya karakter tersendiri.Lalu ada Boo yang semakin memperkuat posisi anak kecil yang bukan tokoh utama di film anak-anak, tapi tetap sudut pandang orang dewasa, dan disana ada kekhawatiran orang tua melalui Sulley yang akan relate dengan orang tua dalam pusingnya menjaga anak bandel hyperactive namun sekaligus sayang. Hal ini mengingatkan akan bagaimana Woody dan para mainan punya sudut pandang tersendiri terhadap Andy, atau ayah Nemo terhadap Nemo. Dan tentu saja, world buildingnya berhasil membuat saya terpukau. Mulai dari segala bentuk monster, soal pintu, soal energy teriakan, semua hal itu membuat saya kenal dengan dunia ini dengan segala logikanya.
Film ini juga secara komedi berhasil membuat saya sering tertawa, utamanya karena tingkah menggemaskan Boo dan bagaimana usaha Sulley dan Mike dalam menenangkan Boo. Film ini juga punya momen yang menghangatkan dan mengharukan. Salah satu scene tersedih yang paling berkesan, bukan Cuma di film ini, bahkan untuk film Pixar, yaitu saat perpisahan Sulley dengan Boo, saya dibuat mewek membayangkan Boo kehilangan temannya dan tidak bisa bertemu dengan Sulley lagi, setelah apa yang mereka lalui karena proses kekaraban mereka secara chemsistry sangat luar biasa.
Soal pesan, saya ingin membahas soal cocoklogi teori konspirasi (bayangkan ada backsound X-Files). Ada banyak teori konspirasi apalagi film ini sangat mudah kena sasaran dengan karakter Sulley yang bertanduk dan Mike yang bermata satu. Di satu sisi mungkin subliminal message nya mema ng saya tidak menyangkal dimana merka membuat makhluk-makhluk yang secara mitologi erat kaitannya dengan setan dan berbagai makhluk sejenisnya berusahan dibuat se loveable mungkin. Kemudian bagaimana ada agenda pengaburan hitam dan putih, baik dan jahat, dan semacamnyak. Untuk aspek pengaburan hitam dan putih itu, entah kenapa saya tidak pernah merasa itu hal yang buruk dimana ini untuk konteks pendobrakan stereotype yang keliru (inget ada konteksnya loh). Saya memang tidak menyangkal soal subliminal message itu, tapi saya juga tipe orang yang melihat sesuatu dari berbagai sisi. Nah di sisi lain film ini punya pesan positif mengenai bagaimana kita tidak menjustifikasi sesuatu apalagi karena kita tidak tahu apapun soal itu dimana hal seperti itu mendorong kita untuk menilai sesuatu tanpa alasan. Uniknya pesan itu tidak diterapkan oleh Boo memandang para monster, karena nyatanya Randall tetaplah menakutkan. Eksekusinya diterapkan pada Sulley dan Mike dalam memandang Boo sebagai makhluk yang menyeramkan, tapi nyatanya setelah menghabiskan waktu bersama mereka melihat sisi lain yang menyenangkan. Film ini menerapkan paradox yang serba keterbalikan dimana hal ini menyenangkan bagi saya dan mungkin beberapa orang dewasa. Bagi anak kecil tentunya tidak akan berpikir serumit itu, saya agak ragu pesan ini tersampaikanpada anak kecil, untuk para anak kecil dunia paradox belum menjadi sesuatu yang relate karena belum tau nilai apa yang mapan di lingkungannya, kesan yang didapat mungkin adalah mereka menjadi punya kesan yang menyenangkan terhadap makhluk-makhluk seperti Sulley dan Mike.Semoga saya salah dan anak kecil tidak sepolos itu, tapi tentu anak kecil ini nantinya akan dewasa dan punya bekal pengatahuan sendiri untuk mencernanya kemudian, inti pesannya tetap positif saya rasa, meski dengan subliminal message sekalipun.
Terlepas dari subliminal message, film ini sendiri secara teknisnya memang sangat baik dan menghibur, juga menyentuh, dan sangat berkesan. Komedinya sukses, karakternya loveable, eksekusi plot yang sempurna, dan world building yang memberi kesan. Monster, Inc secara kritik merupakan karya terbaik dari Pixar, khususnya setelah Toy Story yang menyamai levelnya.

No comments:

Post a Comment