[Review US-Movie] Cars (2006): Konsep Menarik dengan Plot Klise
Sudah berkali-kali saya bilang betapa luar biasanya keajaiban Pixar
yang biasanya melalui World Building. Mainan di hidupkan, dunia
serangga, dunia paradox para monster, dunia laut beserta ikan dan
kawan-kawannya, dan kini mobil hidup. Banyak review yang merasa bahwa
Cars adalah salah satu karya Pixar yang paling lemah, padahal ingatan
saya dulu merasa Cars sebagai tontonan yang mengasyikan. Tapi meskipun
jika memang film Cars ini dianggap lemah, saya merasa magic Pixar di
film ini sebagai salah satu yang terkuat, bukan tanpa alasan kalau
merchandisme Cars merupakan yang paling laris kan? Apalagi untuk ukuran
film yang kritiknya paling lemah sampai dibuat sekuelnya.

Setelah menonton ulang, saya paham kenapa
Cars dianggap sebagai salah satu yang terlemah. Saya tidak akan bilang
Cars sebagai film yang buruk, hanya saja tidak sekuat film Pixar
lainnya. Saya merasa alasan utamanya adalah mengenai ide cerita dan plot
itu sendiri. Cars menceritakan sebuah mobil balam Nascar bernama
Lighting McQueen, si pembalap pendatang baru. Sebagai pembalap muda yang
sangat sukses, wajar apabila sifatnya cukup arogan. Karena wataknya
arogan, maka plot yang sudah pasti adalah mengenai perjalanan karakter
bagaimana dari yang awalnya arogan menjadi karkater yang lebih baik
lagi. Dan memang itulah plot utama film Cars ini. Tidak ada yang special
dari segi plot dibanding film Pixar lainnya. Memang untuk tema
pengembangan karakter yang awalnya menyebalkan menjadi karakter yang
lebih baik itu tidak masalah, bahkan Pixar sebelumnya juga seperti itu.
Woody awalnya nyebelin, bapaknya Nemo juga, tapi perbedaannya dengan
McQueen. Kalau Woody dan Marlin saya paham dengan motivasi karakternya
dan merasa mereka ada benarnya juga, tapi McQueen dari awal sudah sangat
salah dan penonton dengan mudah tahu kalau arogansi McQueen itu bukan
hal yang baik.
Tapi keklisean itu tidak masalah. Yang membuatnya terlihat buruk
karena kalau dibandingkan film Pixar lain kesannya tidak begitu unik.
Dari segi eksekusinya saya pikir cukup baik. Sekali lagi, kejaiban Pixar
memang sangat berhasil memberi kesan. World Building mengenai bagaimana
logika bahwa mobil-mobil ini hidup sangat mengesankan. Bagaiamana dunia
Nascar seperti McQueen dan pembalap lain, penonton yang sama-sama
mobil, Mack si truk, para mobil nakal yang menyebabkan McQueen nyasar,
hingga warga Radiator Spring. Saya suka bagaimana karakter para mobil
ini menyesuaikan identitas dari stereotype para pengendara khas tiap
mobil di dunia nyata.
Untuk film yang membuat karakternya berubah menyadari dirinya salah,
perlu media untuk melakukan itu. Dalam Cars, media itu adalah Radiator
Spring. McQueen akan berubah seiring bagaimana dia menghadapi warga
Radiator Spring. Secara keseluruhan tujuan plot ini tercapai cukup baik,
yang paling berhasil merubah McQueen adalah Mater dan Hudson. Sally
harusnya jadi komponen penting perubahan karakter McQueen karena peran
love inteterstnya. Tapi sayangnya Sally malah menjadi titik lemah Cars.
Alasan Sally dan McQueen tertarik satu sama lain tidaklah jelas,
seolah-olah mereka tertarik karena tampilan mobil mereka memang menarik,
tidak lebih. Masalah Sally ini lah yang membuat kesan McQueen menyukai
Radiator Spring kurang tercapai dengan mulus. Hal ini mengingatkanku
pada A Bugs Life. Kedunaya punya masalah yang sama. Plot yang klise dan
love interest yang lemah membuat pengembangan karakter terasa kurang
maksimal.
Selain hal itu, saya menyukai banyak hal dari Cars. Momen favorit
saya tentu disaat McQueen mendorong The King Dinoco, itu scene yang
menyentuh. Cuma memang Cars dibanding film original Pixar tahun 2000an
terasa paling lemah karena kebanyakan film Pixar era 2000 punya konsep
plot yang unik dan tidak punya celah teknis, yang menentukan Cuma
tinggal masalah selera saja.
No comments:
Post a Comment