Killer Elite (2011) Review
Sudah pengetahuan umum kalau Jason Statham adalah salah satu bintang
film action kelas B di generasi kita ini (meneruskan jejak Arnold
Schwarzenegger, Sylvester Stallone, Dolph Lundgren, Van Damme, dsb).
Sama seperti mereka, actor satu ini tidak pilih - pilih film. Semua
tawaran film diterima olehnya mulai dari yang buruk hingga yang cukup
bagus. Uniknya, dalam semua film yang dibintanginya, Jason selalu
memerankan karakter yang hampir sama, baik dari penampilan luar dan
sifatnya; termasuk dalam Killer Elite ini.
Jujur, dari puluhan film yang dibintanginya, saya hanya terhibur dengan film Transporter trilogy, The Expendables, Death Race dan The Bank Job saja. Bahkan tidak berlebihan apabila mengatakan The Bank Job adalah film terbaiknya, berkat cerita yang solid dan menegangkan. Ironisnya, The Bank Job sama sekali tidak menawarkan adegan action yang memacu adrenalin dan penuh ledakan, melainkan sebuah kisah drama perampokan yang kompleks. Ok, kembali ke pokok bahasan utama. Killer Elite adalah film terbaru Jason Statham yang sayangnya, kualitas film ini sama buruknya dengan Blitz. Yeah, meski Clive Owen dan Robert DeNiro ikut terlibat dalam jajaran cast Killer Elite, mereka sama sekali tidak menaikkan pamor film ini.
Bagi yang belum familiar dengan Killer Elite, garis besar film ini
bercerita mengenai sepak terjang tiga orang pembunuh bayaran : Danny
Bryce (Jason Statham), Davies (Dominic Purcell), dan Meier (Aden Young)
yang memiliki misi untuk membunuh tiga orang mantan SAS agent, sebuah
organisasi agen rahasia Inggris. Usut punya usut, misi ini dilakukan
demi menyelamatkan mentor mereka, Hunter (Robert De Niro) yang ditawan
oleh sang klien, Sheik Amr karena telah menolak pekerjaan yang
diberikannya. Misi ini tidak berjalan dengan mulus karena ketiga target
tersebut adalah orang penting yang dilindungi oleh The Feather Men,
sebuah kelompok yang melindungi mantan agen rahasia. Maka dimulailah adu
ketangkasan antara pembunuh bayaran profesional ini dengan pasukan The
Feather Men yang dipimpin oleh Spike Logan (Clive Owen).
Walaupun diadaptasi dari kisah nyata, Killer Elite menurut saya lebih
terasa seperti kisah fiktif. Hal ini tentu saja berkat naskahnya yang
berantakan dan penyutradaraan yang payah. Ketika credit title sudah
bergulir, film ini malah menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada
jawaban di benak penonton. Bagaimana tidak, sepanjang 116 menit, si
sutradara dan penulis naskah bingung mau mengarahkan film ini ke mana.
Full action pun juga tidak. Drama juga payah karena dialog - dialog yang
tidak bermutu. Cerita juga tidak konsisten dan berantakan dengan plot
hole yang menganga lebar. Para penonton tidak akan diberi penjelasan
yang kongkrit mengenai asal usul Feather men, atau organisasi tempat
Danny dan kawan - kawan bekerja. Bahkan pemberontakan Dhofar yang
menjadi inti film juga tidak dijelaskan. Ujung - ujungnya, film ini
terkesan bodoh, tidak masuk akal, membosankan dan painful to watch.
Bagi yang mengharapkan adegan aksi dahsyat ala film - film Statham
sebelumnya, bersiap - siaplah untuk kecewa. Saya sendiri juga merasa
tertipu mentah - mentah. Bagaimana tidak, banyak sekali adegan aksi
penuh ledakan dalam trailernya, namun ketika anda menyaksikan filmnya
secara keseluruhan, anda akan tertipu dan mendapati bahwa semua adegan
aksi yang menghibur itu hanya ada di penghujung akhir film; di mana para
penonton sudah jenuh dan bosan (pihak marketing, nice job!). Pada awal
hingga paruh akhir film, para penonton hanya disuguhi narasi yang payah
dengan diselipi adegan pembunuhan yang meski seharusnya profesional
malah terlihat murahan.
Walau menurut saya film ini hampir tidak memiliki sisi positif, tapi
paling tidak kehadiran Robert De Niro di sini agak memberikan nafas
segar. Setiap adegan yang melibatkan dirinya selalu mencuri
perhatian. Sayangnya, dia hanya mempunyai screen time yang sangat
sedikit. Dan ntah kenapa, walau aktingnya baik, Robert De Niro menurut
saya terlihat seperti bermain - main dan iseng saja ikut terlibat di
film ini. Istilahnya, seperti mengisi hari tuanya. Sisanya, ya bisa
diduga.. Jason Statham masih memerankan karakter yang itu - itu saja.
Clive Owen juga tampil biasa - biasa saja dengan aksen british-nya yang
maksa.
Overall, tidak banyak yang perlu dibahas dari film ini. Bagi para
pecinta film atau para penonton yang sudah menyaksikan Blitz dan The
Mechanic tahun ini, tentu tahu garis besar kualitas Killer Elite ini.
Ntah menurut anda bagus atau jelek, semua tergantung dari persepsi anda
terhadap Jason Statham dan film - filmnya. Apabila anda menyukai gaya
dua filmnya yang saya sebut di atas, saya rasa anda akan menyukai Killer
Elite. Well, yang pasti, saya tidak menyukainya.

No comments:
Post a Comment