Abduction (2011) Review
Berkat perannya sebagai werewolf dalam Twilight saga, Taylor Lautner
kini digandrungi jutaan remaja perempuan (dan sebagian pria) di seluruh
dunia. Meski memiliki performa akting yang pas - pasan, ia dibanjiri
banyak sekali tawaran untuk bermain film para produser. Alasan
utamanya, tentu saja untuk memanfaatkan popularitas Taylor Lautner.
Lawan mainnya, Robert Pattinson telah melakukannya lebih dahulu. Dan
seperti yang kita ketahui, di luar Water for Elephants, film - film yang
dibintanginya tidak mampu mencetak angka pendapatan yang memuaskan
ataupun memperoleh pujian dari kritikus. Apakah hal tersebut juga
terjadi terhadap film ini?
Unfortunately, yes.
Abduction adalah film action - thriller yang buruk dan bisa dibilang
hanya memanfaatkan popularitas para bintang utamanya ataupun aktor -
aktris pendukungnya, mulai dari Taylor Lautner, Alfred Molina (Spiderman
2, The Da Vinci Code), Sigourney Weaver (Alien saga), Maria Bello,
Jason Isaacs (ayah Malfoy), Michael Nyqvist (The Girl with the Dragon
Tattoo Swedish Version), hingga putri Phil Collins, Lily Collins juga
ikut terlibat. Menurut saya tingkat kekacauan film Abduction kurang
lebih serupa dengan The Tourist-nya Johnny Depp dan Angelina Jolie.
Jelek tapi masih bisa dinikmati dan cukup menghibur. Hanya saja,
Abduction setingkat lebih buruk karena apabila Johnny Depp dan Angelina
Jolie bisa berakting dengan bagus, maka performa Taylor Lautner justru
malah menurunkan derajat film ini.
Abduction dibuka dengan adegan para remaja yang sedang berpesta pora,
tentunya lebih 'sopan' daripada American Pie ataupun horror-slasher
kebanyakan. Kita kemudian diperkenalkan pada si tokoh utama, Nathan
(Taylor Lautner) yang kaya - raya, ceria dan nakal; lalu Karen (Lily
Collins) seorang cewek yang ditaksir Nathan sekaligus tetangga Nathan.
Suatu hari, Nathan diberi tugas Sosiologi oleh guru SMA-nya dan secara
kebetulan ia dipasangkan sekelompok dengan Karen. Kebetulan lagi, tugas
tersebut adalah menulis essay mengenai masalah anak - anak yang hilang.
Ketika mereka bekerja kelompok bersama, Karen menemukan sebuah situs
anak - anak hilang dan ia mendapati sebuah foto anak kecil yang mirip
dengan Nathan. Shock dan tidak terima bahwa dirinya bukan anak ibu
bapaknya, Nathan kemudian mengadakan penyelidikan mulai dari melihat
foto - foto masa kecilnya.
Malam harinya, secara mengejutkan datang dua orang agen yang sukses
membunuh kedua orang tua Nathan dan menghancurkan rumah tempat
tinggalnya. Dan dimulailah aksi kejar - kejaran antara Nathan dengan
agen - agen CIA sambil menguak jati diri sebenarnya.
Kalau boleh jujur.. premise film ini cukup menarik dan memiliki peluang
besar untuk menjadi Bourne versi remaja, seperti yang digembor -
gemborkan sebelum film Abduction dirilis. Sayangnya, naskah garapan
Shawn Christensen ini sangat buruk dan kacau berantakan dengan plot hole
yang bertebaran di sana - sini. Cukup mengherankan naskah yang buruk
ini dihargai US$1 million oleh Lionsgate. Alur ceritanya sungguh
membingungkan karena kurangnya penjelasan yang baik. Dan ketika para
penonton mengharapkan twist di bagian akhir yang bisa menjawab
pertanyaan - pertanyaan yang menghantui mereka, Shawn malah menutupnya
dengan ending yang sangat biasa dan terkesan menggampangkan. Tidak
berhenti sampai di sini, Shawn juga tidak mengerti bagaimana
menghadirkan aura misterius yang seharusnya dimiliki oleh film tipikal
seperti ini. Teka - teki dan petunjuk yang ada justru terkesan bodoh dan
aneh.
Lucunya lagi, John Singleton memvisualisasikan naskah tersebut mentah -
mentah. Ntah karena dia putus asa atau tidak diperbolehkan
berimprovisasi, namun kita bisa melihat dengan jelas bahwa film ini
digarap dengan asal - asalan, padahal John Singleton adalah sutradara
yang berpengalaman. Uniknya, mata saya terus terpaku ke layar berkat
tensi ketegangan yang dihadirkan sepanjang film, sedangkan di sisi lain
saya menghina berbagai ketololan yang ada di film ini. Well, John
Singleton layak mendapat Oscar atas kehebatannya mencampur aduk perasaan
positif dan negatif dengan baik. lol :D
Sementara itu, adegan aksi yang dihadirkan, walau minim ledakan, cukup
menghibur dan menegangkan berkat koreografinya yang oke punya.
Sedangkan segi aktingnya... well.. sudah bisa ditebak, Taylor Lautner
tidak bisa berakting, namun menurut saya tidak sampai seburuk seperti
yang dikatakan para kritikus. Ketika ia memerankan Nathan dalam kondisi
"normal" (bercakap - cakap, bertarung, dsb), menurut saya sebenarnya
sudah termasuk standard. Namun ketika ia dituntut untuk berekspresi
ataupun terlibat dalam adegan emosional, Taylor sama sekali tidak bisa
melakukannya. Saya hanya mendengar desahan orang menangis atau marah
darinya, sedangkan ekspresi wajahnya tidak berubah walau sudah dibantu
dengan kekuatan make - up. Lalu Lily Collins yang memerankan Karen juga
biasa - biasa saja dan tipikal cewek pemanis yang tidak berdaya.
Sisanya, aktor - aktris senior yang ikut nimbrung hanya menghadirkan
performa standard yang begitu - begitu saja, mengingat peran mereka juga
sedikit.
Overall, Abduction adalah film yang buruk namun masih bisa dinikmati dan
menghibur. Bahkan menurut saya film ini tidak layak memperoleh rating
yang lebih rendah daripada The Last Airbender ataupun Dragonball
Evolution. Meski demikian, film ini tidak terlalu saya rekomendasikan
untuk disaksikan di bioskop, kecuali jika anda adalah seorang penggemar
berat Taylor Lautner, anda akan mendapatkan 'fan service' yang
memuaskan. Sedangkan untuk cowok yang terpaksa menemani ceweknya
menonton film ini, jangan khawatir, karena Abduction tidak se-painful
dan se-membosankan Twilight Saga.

No comments:
Post a Comment