Enchanted (2007) : A Modern, yet Classic Disney Tale, The Real World And The Animated World Collide
Director : Kevin Lima
Writer : Bill Kelly
About
Fairy tale, entah sudah berapa kali kita mendengarkan cerita fairy
tale mulai dari kita masih kecil. Walaupun Indonesia, juga kaya akan
cerita berjenis ini, namun tidak menutup kemungkinan untuk kita
mendengar cerita fairytale yang berasal dari luar negeri. Yah, sebut
saja Cinderella, atau Snow White, Sleeping Beauty, Rapunzel, dan lain
sebagainya. Ceritanya simple dan mudah dicerna, walaupun terkadang
formulaic, namun tayangan film baik itu animasi atau live action berbau
seperti ini tidak pernah habis untuk dicerotakan kembali. Contohnya
saja, kisah Snow White yang tahun kemarin saja mempunyai dua versi
Hollywood, atau bahkan tahun depan, ada Maleficent yang menceritakan
fairytale dari perspektif villain Sleeping Beauty ini.
Sebagai studio besar, Disney adalah salah satu bagian penting dalam
pengangkatan fairy tale ke film. Salah satunya adalah Enchanted, sebuah
film yang berusaha me-reimagining fairy tale ke dalam sebuah tayangan
yang lebih modern. Enchanted sendiri masih menerapkan basic formula
dalam sebuah fairy tale lewat keberadaan seorang putri atau princess
yang kemudian jatuh cinta pada seorang pangeran atau prince charming,
namun pasti selalu saja pihak yang menghalangi, let’s say tokoh ibu
tiri. Yah begitulah, Enchanted. Giselle (Amy Adams), seorang gadis biasa
yang hidup dalam sebuah dunia animasi fantasi akhirnya menemukan
pangeran dambaanya, Prince Edward (James Marsden). Keduannya siap
menikah walaupun baru bertemu dalam sehari saja. Seperti biasa, cinta
mereka dihalangi oleh trik yang dikeluarkan Ibu tiri Edward, Queen
Narissa (Susan Sarandon). Giselle dikirim ke dunia dimana ending
“happily ever after” tidak pernah ada, yaitu tidak lain tidak bukan
adalah dunia nyata. Seketika tokoh kartun ini menjelma menjadi tokoh
manusia dan harus berjuang di kehidupan kota New York. Giselle yang naif
dan polos pun akhirnya bertemu dengan Robert (Patrick Dempsey) dan anak
perempuannya yang menyediakan tempat tinggal sementara untuknya.
Mengetahui Giselle hilang ke dunia nyata, Edward pun menyusul dan
mencarinya, sementara Queen Narissa juga mengutus Nathaniel (Timothy
Spall) untuk membunuh Giselle lewat apel beracunnya.
Smartly writen, consistently entertaining, tale in new height with self parody which makes it smarter and smarter. Okay, where’s the sequel ? Bring it on !
Pujian pertama sepertinya harus dilontarkan pada penulis atau
screenwriter yang bisa secara apik meng-compile berbagai referensi
cerita tale mulai dari Cinderella, Putri Tidur, sampai Snow White ke
dalam satu screenplay yang solid dan menghibur. Screenplay dari Bill
Kelly ini tidak hanya menghadirkan cerita tale, namun juga berhasil
berimprovisasi dengan celah antara dialog fantasi ala tale tradisional
dengan doalog yang lebih modern, dan itu menimbulkan kelucuan yang luar
biasa.
Departemen casting juga harus diacungi jempol. Sepertinya tidak mudah
untuk menemukan seorang putri yang harus bernyanyi, bertutur kata
sampai mempunyai tampilan fisik yang benar-benar seperti seorang putri.
Pilihan mereka pun jatuh pada Amy Adams, yang notabene pada tahun 2007
belum terkenal sseperti sekarang, walaupun pada saat itu ia sudah
mengantongi nominasi Oscar untuk penampilannya di Junebug. Amy Adams pun
menjelma sebagai seorang putri lewat penampilan fisiknya yang ditunjang
dengan kostum, serta kemampuan menyanyi dan menarinya yang tidak lepas
dari kata magical. Karakter Giselle yang pada animasi bisa dikatakan
merupakan karakter yang simple, berhasil dihidupkan ke dunia nyata
hampir dengan sempurna. Karakter Giselle ini sangat menarik, dari
seluruh film, karakter Giselle ini bukanlah karakter yang stabil dan
cenderung sederhana. Giselle mengalami pengembangan karakter setelah
setengah jam durasi berjalan yang juga tidak lepas dari plot cerita.
Giselle yang berkepribadian malaikat dan super princess, berubah menjadi
pribadi yang lebih real terhadap reality tanpa mengurangi sisi elegan
dari karakter itu sendiri. Disinilah sebuah keistimewaan ketika sebuah
karakter simple diperlakukan secara lebih real, sehingga adaptasi film
dari fairy tale ini juga mempunyai elebih banyak emosi yang dapat
dirasakan, walaupun penonton semua tahu bahwa film ini akan berakhir
happy ending. Peran Edward dan Robert juga merupakan karakter yang
sangat menarik karena keduannya merupakan karakter yang sangat
berlawanan. Edward, pangeran polos dengan sentuhan narsis sedangkan
Robert sebagai sosok pengacara yang sekaligus single parent yang tidak
percaya dengan cerita berbau “fairy tale”. Villain yang diwakili Timothy
Spall dan juga Susan Sarandon juga lebih dari cukup untuk mengimbangi
sisi charming dan enchanting dari Giselle dan Prince Edward.
Berbagai referensi disertai self parody (yang membuat film ini
terlihat seperti film meta) merupakan point utama mengapa film ini
berbeda dan menghibur di sepanjang film. Tubrukan pandangan antara
Giselle dan Robert tentang dunia mereka menjadi bahan jokes yang terus
berhasil membuat penonton tertawa.
Salah satu adegan yang paling menghibur adalah adegan menyanyi yang
tentu saja merupakan acara wajib pada sebuah musical. Tdak perlu
banyak-banyak, scene menyanyi disini hanya terdiri dari tiga lagu namun
ketiganya berhasil dimaksimalkan untuk menciptakan atmosfer magical
dalam film. Ditulis oleh Alan Menken dan Stephen Schwartz, ketiga lagu
ini berhasil masuk pada Oscars walaupun tidak berhasil menyabetnya.
Ketiga lagu itu adalah Happy Working Song, That’s How You Know, dan So
Close. Moment musikal juga ditambah oleh satu lagu yang sering
dinyanyikan dalam sepanjang film yaitu True Love’s Kiss.
Film ini berhasil merangkul penonton dewasa dan juga anak-anak.
Anak-anak akan tertarik dengan cerita yang simple, mudah dicerna,
fantasi serta visualnya, sedangkan orang dewasa juga akan menikmatinya
lewat dialog-dialog cerdas serta twist yang dibuat berbeda dan
mengejutkan. Sebuah twist yang masih berada pada track fantasi ala fairy
tale.
Take a fairy tae in new height ? Yes. Into real deal ? Yes, this is a formulaic happy ending as usual, yet surprising.

No comments:
Post a Comment