THE PEANUTS MOVIE [2015]

Bila
mengingat karakter Snoopy, maka akan ingat pula dengan Woodstock serta Charlie
Brown. Ketiganya adalah satu paket. Charlie Brown dkk ini adalah salah satu
karakter dalam komik dan kartun yang begitu populer. Karakternya muncul hampir
di beraneka macam pernak-pernik karena saking tenarnya. Menyandang gelar
terkenal, tidak lantas membuat saya mengenal dengan baik Charlie Brown dkk ini.
Saya salah satu yang asing dengan kisahnya walau sudah familiar dengan penampakannya.

Alasan
sederhana yang menjadi penyebabnya adalah tidak pernah diputarnya serial
kartunnya di tv tanah air (sejauh yang saya ketahui). Komik stripnya juga
termasuk hal langka yang saya temui. Jika mencoba me-rewind kembali, jauh pernah saya menonton versi movie-nya di salah satu stasiun tv. Itu
pun sudah sangat lama sekali. Ingatan saya tidak mampu untuk kembali menyusun
alurnya.
“The
Peanuts Movie” disutradarai oleh Steve Martino dari hasil adaptasi komik strip
“Peanuts” karya Charles M. Schulz. Anak dan cucu dari Charles M. Schulz, Craig
& Bryan, ikut pula menggarap naskahnya. Komik strip “Peanuts” sendiri sudah
dipublikasikan sejak sekitar 50 tahun yang lalu dan berakhir tepat di hari
pertama tahun 2000.
Seperti
komiknya, “The Peanuts Movie” berpusat tentang keseharian dari The Peanuts Gang
yang terdiri dari anak-anak SD yang penuh warna dan imajinasi. Tokoh sentral di
sini adalah Charlie Brown (Noah Schnapp); beserta anjing putih kecilnya, Snoopy
dan burung kecil kuning, Woodstock (keduanya disuarakan oleh Bill Melendez dari
hasil rekaman serial aslinya). Charlie Brown adalah anak yang pemalu, canggung,
ceroboh, tidak percaya diri, dan selalu gagal. Ciri khasnya adalah kepala
plontos ditambah seutas rambut di depannya. Berikut baju kuning dan garis hitam
zig zag di tengahnya.
Selain
Charlie, masih banyak lagi karakter-karakter pendukung yang meramaikan cerita.
Ada Sally (Mariel Sheets), adik Charlie; Lucy (Hadley Belle Miller) yang merasa
paling cantik; Linus (Alex Garfin), sahabat dekat Charlie; Peppermint Patty
(Venus Omega Schultheis), yang suka tidur dan Marcie (Rebecca Bloom), pengikut
setianya; serta masih banyak lainnya. Semua karakternya punya keunikan
masing-masing sehingga menambah suasana cerita lebih semarak.

Cerita
film dimulai ketika ada murid pindahan baru; the girl next door bagi Charlie. Dia adalah Little Red-Haired Girl
(Francesca Angelucci Capaldi). Charlie merasakan sesuatu yang berbeda yang
tidak pernah ia rasakan sebelumnya sejak kemunculannya. Tapi Charlie terlalu
pemalu meski sekedar berkenalan. Dengan bantuan teman-temannya, khususnya Linus
dan Snoopy, Charlie memulai pendekatan. Cara yang ia gunakan adalah dengan
menampilkan bakat khusus untuk menarik perhatiannya.
Suatu
ketika, Charlie mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Sebuah hal ajaib bagi
seorang Charlie Brown. Seketika teman-temannya memujanya sebagai seorang
jenius—kecuali Lucy. Keberuntungan memihak Charlie. Sebuah kesempatan demi
mengambil hati Little Red-Haired Girl. Begitu Charlie mengetahui nilai 100-nya
adalah sebuah kesalahan, ia memilih mundur. Asa pun lenyap. Namun kejujurannya
adalah hal yang begitu istimewa darinya. Akankah Charlie menjadi percaya diri
lalu dekat dengan Little Red-Haired Girl?
Dibuat
dengan animasi modern dan lebih
halus, “The Peanuts Movie” masih setia seperti dalam komik stripnya.
Bagian-bagian detil seperti titik mata dan tanda ekspresi dalam komik masih
kuat dipertahankan. Inilah yang membuat “The Peanuts Movie” terasa lebih
spesial jika dibanding dengan “The Adventure of TinTin” (2011). Animasinya
memang lebih realistis dengan motion
capture, tapi “Peanuts” memiliki sesuatu yang lebih. Yakni membawa
keorisinalan dan membangkitkan nostalgia bagi pengikut setia Charlie Brown dkk.
Saya
memang awam dengan “Peanuts.” Tapi selesai menonton ini, saya yakin bila
“Peanuts” adalah sebuah legenda nyata. Fenomenanya yang mendunia telah merasuk
ke berbagai budaya populer. Saya menikmati film ini. Saya suka ceritanya yang
sederhana dan mengedepankan kisah anak-anak. Di dalamnya terselip persahabatan,
keluguan, hingga imajinasi menembus batas. Menyaksikan “Peanuts,” saya jadi
teringat dengan “Upin & Ipin.” Keduanya memiliki premis yang sama.
“Peanuts”
mungkin bukan harapan bagi mereka yang menginginkan animasi dengan tingkat
komedi ekstra. “Peanuts” lebih minimalis, karena ini dibuat dengan sepenuh
hati. Ini adalah film yang menggunakan pendekatan setia pada target anak-anak.
Tidak keluar dari jalur itu. Karakter dewasa saja suaranya sampai diganti
dengan “wah-wah,” untuk meyakinkan bahwa lingkup yang dibawa adalah anak-anak.
Sungguh film yang manis.
No comments:
Post a Comment