Wednesday, October 2, 2019

The Ant Bully

Image result for review film the ant bully indonesia
Kecil dan diremehkan, mungkin beberapa di antara kita pernah merasa demikian. Seperti halnya yang dirasakan oleh Lucas Nickle (Zach Tyler Eisen), bocah berusia sepuluh tahun yang baru saja pindah rumah dan belum memiliki teman di tempat barunya itu. Terlebih lagi, kakaknya Tiffany (Allison Mack), tak pernah bersahabat dengannya. Sedangkan orangtuanya (Cheri Oteri dan Larry Miller) hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri, yaitu mempersiapkan perayaan pernikahan mereka di luar kota.
Alhasil, setiap harinya Lucas muda mengobati dan menghibur dirinya itu dengan memusnahkan sarang semut yang ada di halaman rumahnya. Padahal jauh di bawah sana, ada dunia yang tidak ia pahami. Tempat para makhluk hidup yang kompleks dengan nama, tanggung jawab, hubungan, dan emosi. Seisi penghuni dunia itu pun geram dengan ulah Lucas “The Destroyer”, hingga Wizard Ant Zoc (Nicolas Cage) berinisiatif membuat minuman sihir untuk menghukum Si Pemusnah yang kemudian berhasil membuat Lucas masuk ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Disinilah petualangan Lucas akhirnya dimulai. Menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh Ratu Semut yang bijaksana (Meryl Streep), yaitu tinggal di antara para semut dan mempelajari cara mereka untuk mendapat kebebasannya. Bersama bimbingan Hova (Julia Roberts) yang ramah dan baik hati, ia pun melalui kisah baru yang mengantarkannya pada perjalanan jati diri yang sangat menegangkan.
Sepenggal Aforisma Ruang Pikir
Kisah ini mengantarkan kita pada sebuah pemikiran dan transfer budaya yang dialami oleh Lucas di dunia manusia modern dan teman-temannya para semut yang loyal terhadap koloninya. Menurut Lucas, di dunianya perbedaan seringkali menjadi kendala di dalam kehidupan. Masing-masing lebih peduli terhadap dirinya secara parsial. Tak ada simpati apalagi empati. Namun, Zoc berpendapat lain: “but it’s the differences that make a colony strong”, justru ketika seseorang mulai bekerja untuk dirinya masing-masing, hal itu merupakan pertanda gejala kehidupan primitif.
Alur dari beberapa babak pun mencoba menjelaskan akan definisi antara peran dan status yang seringkali kita temui di sekeliling kita. Paradigma keduanya dalam memandang besar dan kecil, tidaklah sama. Seperti halnya sebuah organisasi yang membentuk sebuah koloni di dalamnya. Atasan-bawahan, memang tampaknya memperlihatkan kapasitas besar dan kecil. Namun, itupun hanyalah status. Semu. Karena sejatinya, yang terpenting adalah sejauh mana kita memandang adanya suatu peran.
Dalam sandiwara, tak ada satupun peran yang remeh atau kecil. Semua memiliki andil yang cukup besar dalam cerita. Bahkan baut mungilpun akan mengakibatkan efek yang luar biasa ketika ia menghilang dari suatu kendaraan.
Selain itu, interpretasi dari sebuah kekuatan juga dijabarkan secara dalam pada kisah ini. Kekuatan bukan sekedar dimulai dari sesuatu yang kasat mata. Atau mudahnya bentuk fisiologis belum tentu merupakan harga mati bagi suatu daya. Namun, kekuatan adalah satu kesatuan. Ia tersusun dari sekelilingnya. Meskipun penyusunnya hanyalah atom-atom yang kecil, “and maybe we’re all small, but together we’re big.”
Kekuatan bukanlah sekedar hasil. Tetapi, ia adalah proses yang penuh dengan dinamika. Dan bukanlah tidak mungkin jika gesekan dan benturan kerap mewarnai langkah-langkah dalam mewujudkannya. Maka, disinilah pentingnya sikap menjadi pembelajar yang juga dilakukan oleh Lucas di tempat tinggal para semut. Belajar dalam segala proses hingga akhirnya menjadi bijak dan menghargai segala yang ada pada ruang pandang kita.

No comments:

Post a Comment