(REVIEW) Coco: Persembahan Bermakna dari Disney dan Pixar
Setelah sukses dengan Toy Story 3 (2010), Disney dan Pixar kembali nayangin film animasinya yang berjudul Coco. Meski Coco
bukan film sekuel dan debut penayangannya baru tahun ini, bukan berarti
Disney enggak ngasih kejutan buat penggemarnya di seluruh dunia lewat
film terbarunya ini. Tentunya, bukan Disney dan Pixar namanya kalau
enggak bikin film animasi yang penuh makna. Coco
disutradari oleh Lee Unkrich yang juga bertindak sebagai penulis naskah
dan bisa dibilang jadi aset berkualitas dalam film ini. Unkrich enggak
pernah main-main dalam ngegarap filmnya. Lihat aja kesuksesan yang
didapat dari Finding Nemo (2003), Toy Story 3, dan Monster, Inc. (2001) yang selalu ngasih kejutan pada jalan ceritanya. Sama halnya dalam Coco, Unkrich makin nunjukin “taringnya” lewat cerita dan visual.
Awalnya, Viki nganggap bahwa film ini bakal biasa aja. Soalnya, waktu rilisnya di bioskop masih dalam hype-nya
film superhero dan film Hollywood lainnya. Bisa dibilang, film ini
ngena banget karena latarnya kehidupan sehari-hari yang kental dengan
budaya suatu daerah. Bahkan, cuplikan filmnya sedikit ngegambarin
budayanya, kok.
Film
ini bercerita tentang Miguel, seorang anak laki-laki yang memiliki
antusias untuk bermusik. Miguel tinggal di sebuah desa di Meksiko dengan
kehidupan yang keras. Dia besar di keluarga pembuat sepatu yang sangat
membenci musik. Mereka benci musik karena percaya bahwa musik adalah
sebuah kutukan.
Miguel punya keinginan yang begitu kuat untuk
bermusik. Terlebih lagi, dia terinspirasi Ernesto de la Crus, penyanyi
legendaris yang diidolakannya. Miguel menemukan bahwa terdapat kemiripan
antara dirinya dengan idolanya, Dia pun mencoba meniru idolanya itu.
Akan tetapi, di saat dia meniru, tanpa sengaja, dia malah masuk ke Tanah
Kematian. Film Coco
sangat kental dengan budaya Meksiko dan mengangkat tradisi Dia de
Muertos. Tradisi tersebut bukanlah momen berduka, melainkan merayakan
dan mengingat kebaikan para leluhur serta menghormati dan mengenang
kembali memori-memori dari anggota keluarga yang telah berpulang. Ada
satu tuntutan dalam film ini, yakni menjaga keaslian dari budaya. Hal
ini berkaitan dengan pemiihan karakternya.
Sebenarnya, udah dari
awal tahun lalu, Disney ngasih kabar mengenai film ini. Faktanya, film
ini memang udah dibikin mulai 2011 dengan beberapa kunjungan penelitian
ke Meksiko. Untuk film ini, Pixar Animation Studio turut berkolaborasi
dengan tim konsultan budaya. Hal itu dilakukan mereka agar bisa
menghidupkan cerita serta mempertimbangkan seluruh detail. Mereka juga
turut mengunjungi museum, pasar, plaza, gereja, hingga kuburan di
Meksiko yang menjadi inspirasi untuk menciptakan kota fiksi Santa
Cecilia secara akurat. Makanya, enggak mengherankan kalau pengerjaan
film ini enggak sebentar.
Ditambah,
pengerjaan animasinya juga enggak main-main. Tiga sineas utama, yaitu
Unkrich sebagai sutradara, Adrian Molena sebagai asisten sutradara, dan
Darla K. Anderson sebagai produser, ngungkapin bahwa film ini dikerjain
dengan totalitas. Setiap objek dibuat animasinya begitu mendetail.
Unkrich pun ngungkapin rasa bangga dengan film yang dibuatnya. Soalnya, dia udah ngerencanain Coco
sejak lima tahun yang lalu. Dia juga ngelibatin anggota yang berasal
dari anggota komunitas lainnya guna menyelesaikan pembuatan film
tersebut. Meski
bertema misteri tentang kebudayaan orang meninggal, film ini enggak
nunjukin keseraman sama sekali. Viki pun terkesan dengan visualnya yang
menakjubkan. Segalanya dibuat mendetail dan berwarna. Twist-nya pun dibikin menarik dan enggak terduga. Benar-benar film khas Disney dan Pixar!
Audio
film ini juga bikin lo senyum-senyum dan terkesima dengan musik-musik
khas Meksiko. Lagu-lagu yang ditampilin juga bakal manjain telinga lo.
Dari segi pengisi suara, lo enggak bakal bosan mendengarkan dialog demi
dialog. Suara dengan logat seksi khas Meksiko bikin film ini makin
hidup.
Para
pengisi suara yang berbakat dan total ngedukung visualisasi yang keren.
Mereka yang terlibat adalah Anthony Gonzales (Miguel), Jaime Camil
(Papa), Ana Ofelia Murguia (Mama Coco), Gael Garcia Bernal (Hector),
Benjamin Bratt (Ernesto De La Cruz), Sofia Espinosa (Mama), Renee Victor
(Abuelita), Herbert Siguenza (Kembar Oscar dan Felipe), dan Alanna
Ubach (Mama Imelda), dan sebagainya Bukan Disney dan Pixar kalau enggak bikin cerita penuh makna. Enggak sedikit pesan moral dalam film Coco.
Selain makna dari kebudayaan Dia de Muertos, yaitu momen ketika lo
berpikir tentang orang-orang terkasih yang udah tiada dan menghormati
sepanjang hidupnya, film ini juga menyampaikan pesan bahwa orang
meninggal hanya akan hilang jasadnya, tapi memorinya akan tetap tinggal
di dalam hati. Selain itu, banyak pelajaran hidup yang menyentuh
mengenai mimpi dan pentingnya keluarga. Film
ini cocok buat jadi tontonan keluarga di akhir pekan. Viki yakin,
setelah lo nonton bareng keluarga, lo makin menyadari arti penting
sebuah kejujuran, kekecewaan, mimpi, harapan, cinta, kenangan, dan yang
terpenting, makna kebersamaan dan dukungan dari keluarga. Nah, lo
penasaran sama filmnya? Kalau enggak ada halangan, film ini bakal
ditayangin pada 24 November 2017 di bioskop seluruh Indonesia.
No comments:
Post a Comment