REVIEW + 3D REVIEW - THE WOLVERINE
X-Men universe memang sedang berada pada masa hype yang lumayan tinggi. Setelah kesuksesan prekuel X-Men yaitu X-Men First Class. Kali ini, giliran cerita milik Wolverine yang pernah dibuat film rip-off nya yaitu X-Men Origins : Wolverine dibuatkan rip-off keduanya. Dengan judul The Wolverine, film ini pun digawangi oleh James Mangold.
Saat pemakaman, Mariko (Tao Okamoto) cucu Yashida pun ternyata dalam
keadaan yang berbahaya. Dia pun diburu oleh seorang bernama Viper
(Svetlana Kodchenkova) yang ternyata berkonspirasi dengan
anggota-anggota keluarga Yashida.
Less mutant, More Drama. Which for me it doesn't work.
X-Men Universe memang bisa dibilang mempunyai banyak komponen film
didalamnya. X-Men Trilogy, X-Men Origins, serta X-Men First Class dan
yang akan muncul X-Men Days Future of Past. Mereka mempunyai cerita acak
dan seperti masih bingung untuk saling berkoneksi dengan baik antara
cerita X-Men satu dengan yang lainnya. Begitu pula dalam segi kualitas,
tak semua memiliki kualitas yang cemerlang. X-Men The Last Stand dan
X-Men Origins : Wolverine pun mempunyai sebuah kualitas yang kurang.
X-Men Origins : Wolverine sendiri terjebak dalam kualitas yang kurang.
Apalagi film ini pun mengalami berbagai masalah. Terutama pada saat itu,
Hasil mentah film ini pun leaked di internet. Sehingga film ini
pun cukup menurun dari segi hype dan apapun. X-Men Origins : Wolverine
sendiri nampaknya membuat X-Men Universe semakin membingungkan. Karena
seri tersebut seperti menjadi sebuah spin off dengan cerita yang berjalan Stand Alone yang cukup tak berkoneksi.
The Wolverine ini pun sepertinya juga memutuskan untuk berjalan sendiri
tanpa memperdulikan cerita dari X-Men Origins : Wolverine. Tetapi bukan
berarti The Wolverine jelas berdiri sendiri, Dia masih terkoneksi benang
merahnya dengan X-Men The Last Stand (sedikit). James Mangold pun mencoba untuk mengarahkan mutant paling menonjol di X-Men Universe
ini. Tetapi jelas The Wolverine pun sekali lagi belum bisa mengalami
kenaikan kualitas yang bisa menyamai X-Men Trilogy ataupun X-Men First
Class.
Apa yang dilakukan oleh James Mangold dalam film ini bisa dibilang tak
bisa memperbaiki reputasi Wolverine dari pendahulunya yaitu X-Men
Origins : Wolverine. Well, X-Men Origins : Wolverine jelas bercerita
dengan gaya yang cheesy dan cukup messy di beberapa bagian. Cerita yang diusung lebih ke arah pop
yang bisa membuat kebanyakan orang akan suka. Dan Saya pun tak
menyukainya. The Wolverine pun diarahkan ke dalam sebuah cerita yang
lebih gloomy dengan lebih banyak menitikberatkan kedalam unsur
drama tentang Wolverine dengan aksi yang lebih menonjol dalam sosok
Yakuza bukan para mutant. Mutant di film ini pun bisa dibilang sedikit. Hanya Wolverine, Viper, serta Yukio (entah itu bisa disebut mutant atau tidak)
Alih-alih The Wolverine ingin mencoba memisahkan diri dari Universe-nya. But In Another side, Wolverine tetap harus memiliki benang merah dengan X-Men Universe. Dan akhirnya datanglah karakter Jean yang selalu membayangi kehidupan Logan. Inilah yang membuat The Wolverine masih terombang-ambing dan tidak total. Bahkan karakter Jean pun terkesan distracting dan beberapa masih menganggu cara penuturan film The Wolverine ini sendiri.
Alih-alih The Wolverine ingin mencoba memisahkan diri dari Universe-nya. But In Another side, Wolverine tetap harus memiliki benang merah dengan X-Men Universe. Dan akhirnya datanglah karakter Jean yang selalu membayangi kehidupan Logan. Inilah yang membuat The Wolverine masih terombang-ambing dan tidak total. Bahkan karakter Jean pun terkesan distracting dan beberapa masih menganggu cara penuturan film The Wolverine ini sendiri.
Sepertinya, The Wolverine ini pun berkurang dari segi cerita para mutant
dan aksi heroiknya. Tapi dari segi bertutur kata, film ini bisa
dibilang lebih menonjol dalam dramanya. Tetapi dengan unsur seperti itu
tak sepenuhnya berhasil. Ini malah mengubah film The Wolverine lebih
condong ke arah cerita bodyguard yang melindungi seorang gadis ketimbang ke arah film superhero. Dengan berbagai adegan aksi yang begitu kurang di film ini.
The Wolverine like using B-Class Movie treatment.
Muatan drama di film The Wolverine yang terlalu banyak itu akan membuat
penontonnya lelah mengikutinya. Saya terlalu lelah dalam mengikuti film
ini. Jika film mengalir lambat di awal film untuk menceritakan back story
dengan penuturan yang baik mungkin masih bisa dimaklumi. Tetapi sayang,
tempo penceritaan yang mengalir sangat tenang pun terjadi di film ini.
Sama sekali tak ada sebuah adegan klimaks yang mampu membuat saya duduk
tenang dan menikmati apa yang ada di layar.
Sedikitnya adegan aksi dari The Wolverine ini sendiri yang mungkin
mengecewakan berbagai pihak. Jika X-Men Origins : Wolverine masih
memiliki adegan dengan mengekspos adegan aksi yang melibatkan kekuatan
unik milik mutant. Di filmnya kali ini, adegan aksi pun tampil sangat
minimalis. Dengan sentuhan-sentuhan yang kurang dan malah membuat film
ini mempunyai taste layaknya film aksi kelas B dengan menampilkan banyak
ninja dan yakuza.
Adegan aksinya sudah kurang dan dengan sentuhan yang kurang berkelas.
Meskipun masih ada beberapa scene yang setidaknya masih membuat film ini
cukup dinikmati. Adegan fighting di rooftop train yang
cukup bagus. Yap, cukup satu yang mengasyikkan dan tak ada lagi.
Sepanjang durasi sekitar 125 menit ini tetap dihajar habis dengan drama
panjang yang cukup melelahkan bagi saya. Alih-alih lebih mengusung backside story yang mungkin akan kuat. But for me, totally doesn't work.
James Mangold memang sepertinya mengarahkan The Wolverine ke dalam
bentuk pendekatan yang seperti itu. Dengan gaya cerita yang lebih
bertele-tele dengan pendekatan yang sekali lagi mencoba manusiawi dengan
sosok superhero. Tone cerita memang dibuat lebih gloomy dengan
sedikit unsur romance yang mungkin tetap tak membantu keseluruhan
presentasi film ini. Tempo juga tak terjaga, semakin bertambahnya durasi
film maka tempo juga semakin ikut melambat dalam menuturkan semua kisah
Logan.
Sekali lagi, treatment Plot Twist juga masih diselipkan di film
Superhero satu ini. Entah, apalah itu saya sedikit was was dengan
pendekatan Plot Twist di film superhero. Beberapa mungkin berhasil
seperti The Dark Knight Rises atau bakal ridiculous layaknya Iron Man 3. The Wolverine pun untungnya tak bakal jatuh ke formula milik Iron Man 3. But it just me or the plot twist is quite predictable.
Atau mungkin efek saya kelelahan dalam mengikuti film ini yang memiliki
penuturan yang berusaha menyajikan kisah yang kompleks tetapi sangat
lambat dengan durasi yang panjang. sehingga twist seperti itu rasanya
biasa saja.
But in cast, Hugh Jackman still into Logan aka The Wolverine. But now,
Wolverine terlihat lebih cengeng dan lemah. Tak seberingas film-film
terdahulunya. Ketika Hugh Jackman memakai baju compang camping dengan
penuh jenggot sangat mengingatkan saya saat dirinya memerankan Jean
Valjean di film Les Miserables. Tao Okamoto dan Svetlana
Kodchenkova cukup membuat film ini setidaknya manis dengan paras cantik
mereka. But, Mereka tak sampai kelewat bad-ass layaknya Rinko Kikuchi di
film Pacific Rim kala memerankan Mako Mori. Rila Fukushima pun masih terbilang kurang.
Technically, The Wolverine patut bersyukur dengan adanya Amir Mokri sebagai Director of Photography
yang berhasil membingkai indah kota Jepang. Pemandangan-pemandangan
serta sudut-sudut kota yang indah di negara Jepang pun mampu di shoot
dengan baik. Sehingga saya cukup menyukai setting-setting tempat di film
ini. Layaknya melakukan sebuah tour singkat di kota Jepang. Meskipun
sayangnya Sinematografi indah itu kurang di manfaatkan dalam memberikan
konversi 3D yang bagus pula dalam segi Depth.
So, There it goes. A Mid Credit Scene which totally makes me more excited than the entire movie. Saya pun lebih menyukai 3 Menit adegan Mid Credit Scene yang shocking ketimbang 125 Menit slow-paced milik The Wolverine ini. Semua adegan Mid Credit Scene cukup memberikan banyak Easter Egg
untuk melanjutkan X-Men Universe di filmnya X-Men Days Future of Past
di tahun 2014. Yah, setidaknya 3 menit akhir itu cukup membayar
kekecewaan yang terjalin di 125 Menit di film The Wolverine sendiri.
Overall, The Wolverine was going too much drama. Less Mutant, Less
action which totally makes this movie not going well. James Mangold
makes different way to retell the back story of Wolverine. Even I know,
James Mangold try harder to makes this story more complex than other.
But, he cant keep the rhythm of story. It's a 125 minutes long and
slow-paced movie without any climax feeling.
No comments:
Post a Comment