Thursday, October 17, 2019

Cars

[Review US-Movie] Cars (2006): Konsep Menarik dengan Plot Klise

Sudah berkali-kali saya bilang betapa luar biasanya keajaiban Pixar yang biasanya melalui World Building. Mainan di hidupkan, dunia serangga, dunia paradox para monster, dunia laut beserta ikan dan kawan-kawannya, dan kini mobil hidup. Banyak review yang merasa bahwa Cars adalah salah satu karya Pixar yang paling lemah, padahal ingatan saya dulu merasa Cars sebagai tontonan yang mengasyikan. Tapi meskipun jika memang film Cars ini dianggap lemah, saya merasa magic Pixar di film ini sebagai salah satu yang terkuat, bukan tanpa alasan kalau merchandisme Cars merupakan yang paling laris kan? Apalagi untuk ukuran film yang kritiknya paling lemah sampai dibuat sekuelnya.
open-uri20160811-32147-6g2m5d_8e89aa03.jpeg
Setelah menonton ulang, saya paham kenapa Cars dianggap sebagai salah satu yang terlemah. Saya tidak akan bilang Cars sebagai film yang buruk, hanya saja tidak sekuat film Pixar lainnya. Saya merasa alasan utamanya adalah mengenai ide cerita dan plot itu sendiri. Cars menceritakan sebuah mobil balam Nascar bernama Lighting McQueen, si pembalap pendatang baru. Sebagai pembalap muda yang sangat sukses, wajar apabila sifatnya cukup arogan. Karena wataknya arogan, maka plot yang sudah pasti adalah mengenai perjalanan karakter bagaimana dari yang awalnya arogan menjadi karkater yang lebih baik lagi. Dan memang itulah plot utama film Cars ini. Tidak ada yang special dari segi plot dibanding film Pixar lainnya. Memang untuk tema pengembangan karakter yang awalnya menyebalkan menjadi karakter yang lebih baik itu tidak masalah, bahkan Pixar sebelumnya juga seperti itu. Woody awalnya nyebelin, bapaknya Nemo juga, tapi perbedaannya dengan McQueen. Kalau Woody dan Marlin saya paham dengan motivasi karakternya dan merasa mereka ada benarnya juga, tapi McQueen dari awal sudah sangat salah dan penonton dengan mudah tahu kalau arogansi McQueen itu bukan hal yang baik.
Tapi keklisean itu tidak masalah. Yang membuatnya terlihat buruk karena kalau dibandingkan film Pixar lain kesannya tidak begitu unik. Dari segi eksekusinya saya pikir cukup baik. Sekali lagi, kejaiban Pixar memang sangat berhasil memberi kesan. World Building mengenai bagaimana logika bahwa mobil-mobil ini hidup sangat mengesankan. Bagaiamana dunia Nascar seperti McQueen dan pembalap lain, penonton yang sama-sama mobil, Mack si truk, para mobil nakal yang menyebabkan McQueen nyasar, hingga warga Radiator Spring. Saya suka bagaimana karakter para mobil ini menyesuaikan identitas dari stereotype para pengendara khas tiap mobil di dunia nyata.
Untuk film yang membuat karakternya berubah menyadari dirinya salah, perlu media untuk melakukan itu. Dalam Cars, media itu adalah Radiator Spring. McQueen akan berubah seiring bagaimana dia menghadapi warga Radiator Spring. Secara keseluruhan tujuan plot ini tercapai cukup baik, yang paling berhasil merubah McQueen adalah Mater dan Hudson. Sally harusnya jadi komponen penting perubahan karakter McQueen karena peran love inteterstnya. Tapi sayangnya Sally malah menjadi titik lemah Cars. Alasan Sally dan McQueen tertarik satu sama lain tidaklah jelas, seolah-olah mereka tertarik karena tampilan mobil mereka memang menarik, tidak lebih. Masalah Sally ini lah yang membuat kesan McQueen menyukai Radiator Spring kurang tercapai dengan mulus. Hal ini mengingatkanku pada A Bugs Life. Kedunaya punya masalah yang sama. Plot yang klise dan love interest yang lemah membuat pengembangan karakter terasa kurang maksimal.
Selain hal itu, saya menyukai banyak hal dari Cars. Momen favorit saya tentu disaat McQueen mendorong The King Dinoco, itu scene yang menyentuh. Cuma memang Cars dibanding film original Pixar tahun 2000an terasa paling lemah karena kebanyakan film Pixar era 2000 punya konsep plot yang unik dan tidak punya celah teknis, yang menentukan Cuma tinggal masalah selera saja.

No comments:

Post a Comment